PRESCHOOL ACTIVITIES PLAN

Sebelum memulai kegiatan yang akan aku lakukan bersama Tita, aku mencoba memetakan apa, bagaimana, kapan dan dimana kegiatan itu dilakukan. Hal ini aku lakukan supaya pada saat pelaksanaannya nanti akan memudahkanku dan Tita tentunya. Awalnya bingung, jelas. Mau ngapain & apa saja yang harus dilakukan pertama ga tau, itu pasti. Tapi begitu mencoba dan terjun sendiri, semuanya berubah jadi menyenangkan.  Jadi hal-hal ini yang menjadi dasar aku untuk memulai aktifitasku bersama Tita.

  1. Yang pertama aku pertimbangkan adalah masalah waktu.
    Kapan enaknya memulai kegiatan ya? Pagi kah? Siang kah? Sore atau bahkan malam? Sekali lagi aku musti benar-benar memikirkannya supaya kegiatan bisa berjalan dengan enak dan tidak mengganggu aktivitas Tita lainnya juga aktivitas kerumahtanggaanku yang juga banyak. Setelah mengamati kebiasaan Tita dan menyesuaikan waktuku, saat yang paling nyaman untukku dan Tita bermain bersama adalah sore hari sesaat sebelum mandi sore. Waktu itu adalah waktu senggangku (yang hanya bersisa sekitar 30-40 menitan) setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan waktu longgar setelah Tita bangun tidur. Tita fresh bangun tidur dan akupun sudah sedikit santai. Itulah saat yang tepat buat aku dan Tita. Apalagi kalau mainnya sedikit kotor-kotoran, setelah itu bisa langsung mandi sore daan all done well. Naa, waktu setiap anak beda-beda, jadi orang tuanyalah yang paling tahu kapan saat yang tepat.
  2. Penentuan Tema
    Menentukan tema di setiap kegiatan, ini yang paling menantang. Awalnya bingung musti ngapain, tapi setelah membaca banyak referensi sana-sini akhirnya bisa juga menyusun agenda harian dan bahkan sebulan. Aku memutuskan satu tema berbeda tiap minggunya, dan memilih tema yang termudah, yang bisa diliat sehari-hari. Misal : minggu pertama aku pilih tema warna, minggu kedua temanya mengenal bentuk. Dengan begitu selain anak lebih mudah menerima, aku sendiri juga lebih mudah untuk menentukan detil kegiatannya
  3. Aspek yang ingin dicapai
    Aspek utama yang pengen aku capai jelas kognitif, afektif dan psikomotor (jadi berasa balik ke masa kuliah). Review dikit sambil mengingat ya apa itu ketiga aspek yang dimaksud.

    Kognitif
    Gampangnya aspek kognitif ini adalah aspek yang berkaitan dengan kerja otak. Ya tentang kemampuan mengingat, menghafal, memahami, meng-analisa, meng-aplikasikan pengetahuannya. Mengutip dari Bloom (1956) yang ingin dicapai oleh aspek kognitif adalah :
    1. Pengetahuan (knowledge)
    2. Pemahaman (comprehension)
    3. Penerapan (aplication)
    4. Analisis (analysis)
    5. Sintesa (Synthetic)
    6. Evaluasi (Evaluation)
    Mau baca lengkapnya disini yah … panjang banget mau ngejabarinnya (deng dong … malesnya keluar)

    Afektif
    Kalau kognitif berkaitan dengan otak, maka afektif lebih kepada “rasa”. Yaitu mencakup perasaan, emosi, sikap, perilaku dan nilai. Kalau dijabarkan lebih rinci, afektif dibagi menjadi lima, yaitu
    1. Receiving ( mengacu pada menerima dan memberikan respon secara tepat)
    2. Responding (menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”
    3. Valuing (penilaian atau penentuan sikap)
    4. Organization (mengatur atau mengorganisasikan)
    5.Characterization by value or value complex (karakterisasi melalui suatu nilai atau nilai yang komplek)
    Lengkapnya silahkan baca disini dweh hihihi (lagi)Psikomotor
    Psikomotor adalah hasil dari pengalaman kognitif dan afektif, menyangkut aktifitas fisik dan otot. Menurut Dave (1970), aspek psikomotor terbagi menjadi lima, yaitu :
    1. Imitation (Peniruan) yaitu kemampuan meng-observasi dan meniru orang lain
    2. Manipulation (Manipulasi) yaitu mengikuti suatu instruksi untuk menampilkan suatu ketrampilan
    3. Precision (Ketetapan) yaitu adanya akurasi, proporsi dan ketepatan pada ketrampilan yang ditampilkan tanpa ada               pengaruh dari sumber aslinya. Kalau boleh pinjam istilah Indonesian Idol sih (aiihhhh) … bisa keluar dari penyanyi aslinya     😀
    4. Articulation (Artikulasi) yaitu dua atau tiga ketrampilan yang dikombinasi, dirangkai, dan ditampilkan secara konsisten
    5. Naturalization (naturalisasi) yaitu dua atau tiga ketrampilan yang dikombinasi, dirangkai, dan ditampilkan secara                   konsisten dengan mudah. Tampilannya bisa keluar secara otomatis hanya dengan sedikit usaha fisik dan mental. Istilah       gampangnya sih, kemampuan ketrampilannya itu keluar dengan sendirinya tanpa usaha yang keras/mati-matian.

    4. Kemampuan & Minat Anak
    Ini pertimbangan yang sangat menentukan menurutku. Karena akan menjadi dasar untuk menentukan aktifitas apa yang tepat untuk Tita berdasarkan tema yang aku susun. Keduanya sama penting dan berkaitan, kemampuan tanpa minat atau minat tanpa kemampuan hasilnya pasti kurang maksimal. Tita paling suka aktifitas yang melibatkan kegiatan fisik , jadi aku berikan lebih banyak aktifitas fisik, tapi tetap tidak meninggalkan aktifitas selain fisik. Misal, main air. Anak mana yang ga suka main air? pasti aktifitas yang berkaitan dengan air banyak yang suka. Becek-becekan, semprot-semprotan, siram-siraman. Tapi main air yang menyenangkan ini aku coba arahkan supaya tidak hanya sekedar main air. Dari main air bisa dikembangkan jadi bermacam-macam eksperimen menyenangkan yang juga melatih motorik halus, kemampuan berbahasa, melatih kemandiriannya dan banyak lagi. Well … menantang kan? 🙂

    5. Frekuensi Kegiatan
    Berapa hari ya dalam seminggu anak diajak bermain one-on-one (aku suka istilah ini)? Atau sehari berapa kali atau berapa jam ya lama kegiatannya? Pusing juga sebenarnya menentukan frekuensi bermain one-on-one ini. Tapi aku yakin setiap anak suka bermain one-on-one seperti ini, begitu juga Tita. Alhamdulillah sejauh ini setiap kegiatan yang aku berikan, dia selalu bersemangat. Bahkan dia selalu merasa haus bermain bersamaku. Tiap selesai kegiatan, dia selalu bilang (dengan bahasanya yang sedikit planet-made-in punya) “Mama, ain agi yuk. Hikin gembung, main wana, tus hamba-hamba” (trans. Mama, main lagi yuk. Bikin gelembung, main warna, terus gambar-gambar). Jadi buat aku ga susah untuk menentukan frekuensi bermainnya Tita. Karena dia lahap semua “pengetahuan” yang aku berikan, jadi aku buat jadwal daily. Sehari aku cuma buat satu saja kegiatan untuk menghindari kebosanan. Meskipun Tita suka sekali macam-macam kegiatan, dia adalah tipe anak yang gampang bosan. Supaya menghindari kebosanan dini (dan tentunya memudahkan aku untuk menentukan kegiatannya dia) aku putuskan satu hari satu kegiatan. Sedangkan untuk lamanya waktu bermain, aku buat sesuai waktu luangku dan Tita, bahkan seringkali sampai Tita puas. Biasanya dengan kesadaran diri dia  menyelesaikan sendiri kegiatannya.

    6. Apa saja yang diperlukan untuk menunjang kegiatan preschool ini
    Setelah menyusun tema dan kegiatannya, peralatan untuk menunjang kegiatan pasti dibutuhkan. Kalau aku lebih banyak memanfaatkan yang ada di rumah aja. Asyik lho, eksplorasi bahan yang ada di rumah. Meskipun pasti ada beberapa peralatan yang harus dibeli juga untuk melengkapi yang ada. Daan, aku lebih suka yang homemade. Sekalian bikin sekalian bisa buat bahan bermainnya Tita misal: buat cat air sendiri, buat dough pengganti malam atau plastisin sendiri, lebih menyenangkan dan aman tentunya untuk anak. Daaan, peralatan itu jangan hanya terbatasi oleh perlengkapan yang bersifat material yah … bahan makanan pun bisa dipakai sebagai obyek bermain, misal beras, pasta-pastaan, sayuran, buah-buahan pun bisa digunakan. So, asyik banget kan 🙂

    Kalau menurutku enam hal diatas adalah dasar untuk melakukan kegiatan bermain one-on-one di rumah. Tapiii selain itu ada juga hal yang ga kalah pentingnya, yaitu bekal kesabaran yang besar orang tua dalam bermain dengan anaknya, tidak terlalu memaksakan anak untuk melakukan yang kurang dia suka apalagi memaksakan dia untuk “bisa”, selalu memberi kesempatan dia untuk mengembangkan kemampuannya, dan jangan terlalu membatasi. Karena anak punya keinginan dan harapan sendiri meskipun tidak bisa mengungkapkannya lewat bahasa. Mereka mencoba mengungkapkannya lewat sikap dan perilaku yang dia tunjukkan, dan kita sebagai orang tua bertugas sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar dan tumbuh kembangnya dia.
    Itu aja sih sebagai awal kegiaan rutin bermainnya Tita … Mau ikut main? Yuk ikuti Tita terus, pasti asyik. Kiss kiss :-*

 

Ps: Tulisan ini aku buat berdasar pengalaman tanpa mengesampingkan paradigma serta stigma yang telah ada sebelumnya. Dan tidak bermaksud menjadi ahli ataupun bersifat menggrui, hanya pengen share aja apa yang sudah aku jalani bersama Tita. So, be smart as a reader yah … 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s