Tag Archives: sembelit

BYE BYE SEMBELIT DAN KONSTIPASI

Sembelit dan konstipasi? Uh … Sangat menyebalkan.

Ini baru saya yang ngomong sebagai orang dewasa. Lha kalau anak yang ngerasain sampai nangis-nangis? Haish … luluh lantak pasti hati ibu nya.

Ini juga yang dialami Tita. Dari bayi, sembelit ga pernah jauh-jauh dari Dia. Seingatku, dari mulai usia 1 bulan, Tita sudah susah BAB nya, kadang bisa sampai 4-5 hari ga BAB. Meskipun menurut DSA, ini masih hitungan wajar sebagai reaksi bayi terhadap ASI atau Sufor, tapi sebagai ibu nya yang pagi-siang-sore-malam selalu menghabiskan waktu bersama, jelas sedih, galau, sakit hati, bahkan meraung-raung dibuatnya. Bukan mengada-ada lho … siapa ga prihatin lihat anak ngeden-ngeden tapi ga keluar pup nya, dilanjut dengan tangisan membahana yang bikin pilu. Dan tidak berhenti sampai disitu, bahkan sampai Tita sebesar ini (sekarang 2,5th) masih saja perkara sembelit menghantui pertumbuhan dan perkembangannya.

Seperti kasus sembelit yang terakhir, sekali lagi Tita harus merasakan sakitnya BAB yang membuatnya menangis kenceng-kenceng dan berlarian kesana kemari untuk menahan rasa sakit (merusak acara toilet training-nya Tita hiks). Haduuh ga kebayang sedihnya setiap kali lihat Tita seperti itu. Segala cara sudah ditempuh, mulai konsumsi buah-buahan, sayuran hijau, madu, prebiotik, suplemen buah dan sayur, tapi hasilnya tetap sama, Tita menangis dan berteriak setiap BAB. Namun kali ini lebih parah karena disertai perut kembung, rasa sakit diperut yang membuatnya sering terbangun tengah malam, dan puncaknya Tita demam. Bukan demam tinggi sih, karena suhu badannya “hanya” berkisar antara 36,8-37,4 dercel tapi sudah cukup membuat aku panik. Akhirnya, balik lagi ke DSA. Dan alhasil 5 jenis obat yang harus diminum dan cek urin di laboratorium untuk melihat ada tidaknya indikasi infeksi saluran kencing. Alhamdulillah, hasil lab normal dan diagnosa kedua adalah KONSTIPASI. Sedikit bernafas lega karena tidak ada indikasi infeksi dalam tubuh Tita. Tapi meminumkan 5 jenis obat ke Tita? Wow, berarti bakal ada perang dunia ke-3 ini. Tita paling susah minum obat. Merayu dengan cara apapun ga akan pernah berhasil. Memaksa? Malah takutnya bikin dia trauma minum obat. Akhirnya minum obat pun pakai akal-akalan. Tapi setelah 3 hari, gejala perut kembung dan sembelitnya ga hilang, malah perutnya membesar dan keras. Haduuh,  bingung lagi. Akhirnya, obat yang seharusnya untuk 5 hari, aku stop saat itu juga. Baru 3 hari sih, tapi menurutku kalau rentang waktunya 5 hari sampai hari ke-3 tidak membaik tapi malah memburuk, berarti saatnya untuk berhenti minum obat. Mau balik ke DSA rasanya sudah males karena pasti bakal ganti obat lagi, dinasehati hal yang sama lagi, dan hasil yang belum tentu lebih baik dari sebelumnya (huih sudah su’udzon duluan).  Keputusanku, mencari info dengan cara lain.

Dan satu-satunya teman baik yang sedikiiit meringankan beban adalah internet (karena suami lebih panikan lagi kalau melihat anaknya sakit, jadi mamahnya yang harus gerilya :D). Sebanyak-banyaknya informasi aku coba dapatkan. Banyak sudah artikel yang menjelaskan mengenai konstipasi. Hasilnya … solusi ga ada,  rasa khawair terus menggunung.

Tapi yang namanya ikhtiar pasti ada hasilnya. Tiba-tiba aku stuck pada satu ulasan yang disampaikan oleh seorang dokter yang dengan ramahnya membalas setiap komen yang ada di akun FB-nya. Dokter Olieve Indri Leksmana. Aku baca ulasannya yang singkat tapi sangat berisi. Dan solusi yang ditawarkan benar-benar belum pernah aku coba sebelumnya.

Sedikit saja aku kutip dari akun FB nya.

“Konstipasi adalah kesulitan/keterlambatan BAB, yang menetap sudah > 2 minggu & telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi yang mengalaminya. Jadi kalau baru satu atau dua kali, belum masuk kriteria medis tersebut.  Sedangkan menurut standar kepraktisan klinis, dikatakan konstipasi apabila terdapat BAB yang tidak teratur, BAB dengan nyeri atau keduanya. Dikatakan konstipasi akut bila keluhan timbul selama 1-4 minggu. Sedangkan konstipasi kronis, keluhannya berlangsung lama, lebih dari sebulan. Konstipasi akut terapi cuma perlu beberapa hari saja, tetapi konstipasi kronis dapat berbulan-bulan.

 Ada 3 hal penting yang harus diperhatikan, yaitu frekuensi BAB, konsistensi atau bentuk tinja, dan keadaan klinis. Gejalanya, BAB kurang dari 3 kali seminggu, rasa nyeri saat BAB, rektum terisi penuh oleh tinja yang keras, atau teraba massa tinja pada dinding perut. Jika ditemukan minimal satu gejala tersebut, maka bisa dikatakan si anak mengalami konstipasi. Gejala lain yang juga sering dijadikan patokan adalah BAB dengan tinja yang sangat besar setiap 7 hari sekali dan enkopresis (kecepirit), yaitu keadaan dimana pengeluaran tinja sedikit-sedikit berbentuk cair akibat konstipasi yang telah berlangsung lama.”

Dan memang inilah yang dialami Tita selama 3 minggu belakangan, gejala-gejala seperti diatas yang sering dia keluhkan. Kondisi ini sudah datang dan pergi semenjak Tita mulai bayi. Dan paling parah adalah 3 minggu kemarin dimana dia sudah sampai pada demam dan rasa sakit yang mengganggu di perutnya.

Yang lebih amazing lagi adalah solusinya. Selama pergi ke DSA, aku tidak pernah disarankan atau diresepkan pengobatan dengan menggunakan cara ini.  Yaitu menggunakan Sirup Laktulosa atau air gula pekat. Di akunnya, Dr. Olieve menyarankan untuk mengkonsumsi Sirup Laktulosa secara teratur sampai kondisi feses stabil atau dengan menggunakan air larutan gula pekat buatan sendiri. Aku memilih untuk memberikan sirup laktulosa yang dibeli di apotek, dengan pertimbangan bahwa ketidaktahuan ukuran pasti seberapa banyak perbandingan air : gula pada satu kali penyajian kepada anak, seberapa banyak air gula pekat yang harus diberikan sekali minum, dan sayang dengan gigi Tita kalau kebanyakan minum air gula karena Tita paling suka berkumur dengan air minumnya (weird ha? that’s my Tita hahaha). Selain itu, cara ini relatif aman karena kandungan syrup lactulosa ini hanya laktulosa saja, dibanding obat-obatan kimia lainnya.

Langsung berangkatlah aku ke apotek, dan  ini sirup laktulosa yang aku dapat

dulcolactol

Aku ikuti aturan yang tertulis di brosurnya dengan dosis anak 1-5 th  2x5ml. Disamping itu jelas pola makan yang sehat, sayuran hijau dan buah tetap aku berikan karena sifatnya penting dan harus. Aku banyak memberikan buah pepaya juga buah naga pada Tita, namun untuk menghindari kebosanan (secara Tita anak yang gampang bosan sama makanan),  aku selingi dengan buah-buahan lain terutama yang mengandung banyak air seperti semangka dan jeruk.

Well, hasilnya … dua hari setelah mengkonsumsi Syrup Laktulosa dan pola makan sehat, perut Tita berangsur membaik. BAB ga kesakitan, perutnya mulai melunak, dan kembung berkurang banyak sekali (buang angin mulu Titanya hehehe). Yang penting juga, kualitas tidur Tita dan mamahnya jadi membaik karena ga kebangun tengah malam.

Dan yang juga ga kalah pentingnya adalah selalu menjaga kebersihan, jaga asupan cairan dengan banyak minum air putih, perbanyak serat, dan selama konstipasi hindari buah apel dan pisang karena bisa memperburuk kondisi. Sempat merasa bersalah karena ngasih pisang & apel saking pengen masukin buah apa aja ke perutnya Tita,  baru keinget kalau apel masuk dalam diet braty untuk diare. So sorry Tita … feeling so much guilty  hikz.

Tapi btw, sekali lagi terima kasih atas pencerahan FB-nya dr. Olieve …. Sangat bermanfaat, karena bisa melepaskan kecemasan pada ibu-ibu yang gampang panik kalau tahu anaknya sakit sepertiku 🙂

Dan semoga hasil sharing ini juga membawa manfaat untuk ibu-ibu yang memiliki masalah sama. Kesabaran adalah kuncinya buibu 🙂

Kiss kiss from Tita and Mamah mmuuaacchh :-*