Category Archives: Uncategorized

TITA NOW

Ah, lama ga posting di blog tercintaku ini. Balakangan aku disibukkan dengan kegiatan baru dan menyenangkan bersama Tita. Yess … Tita sudah memasuki usia preschool. Seneng banget lihat perkembangannya yang membanggakanku. Secara kemampuan berbahasanya lebih komplek meskipun pengucapannya masih belum sempurna, kemampuan psikomotornya yang menggemaskan dengan perilaku-perilaku dan ke-aktifan dia, apalagi kemampuan afeksinya yang ehem hampir setara dengan anak usia diatasnya, empatinya besar sekali kepada orang lain. Ih, mama suka mama suka hehehe

Inilah “Halaman” barunya Tita. Semua kegiatan bermain one-on-one bersamaku, aku rekam disini. See the pages ya … masih baru dan belum banyak postingan. Sedikit demi sedikit bakal aku penuhi dengan koleksi bermain-nya.

Lha terus masak memasaknya Tita gimana? Hehehe teteeep itu jadi kegiatan pokokku. Menyiapkan makanan sehat selalu adalah kewajiban seorang ibu. Apalagi Tita sudah beraktifitas dan punya kegiatan seperti itu. Menu dan nutrisi yang dibutuhkan pasti jauh lebih besar. Bahkan baru saja ketemu DSA nya Tita, dan beliau berkata “Usia anak ibu 2,5th ya, berarti berat seharusnya 13kg. Anak ibu berapa ini ya (sambil lihat data Tita) … 14kg? Wah bagus banget itu bu, dikasih apa anaknya?” Lah sempet bingung sendiri jawabnya, dengan polosnya aku jawab “Ya dikasih makan dok”. DSA nya Tita pun ketawa, “Iya jelas bu dikasih makan. Maksud saya apa dikasih makanan tambahan seperti susu pengganti makanan atau makanan buatan pabrikan?” dan dengan bangganya aku jawab “Nggak dok, hanya masakan asli ibunya, dengan mencoba belajar memenuhi semua nurisinya.” Dan jawaban DSA nya Tita bikin besar kepala banget “Wah bagus banget itu bu, pertahankan seperti itu yah, berarti ibu pinter menyediakan makanan dengan asupan gizi yang memenuhi syarat. Anaknya saya lihat juga aktif sekali. Jarang saya temui ibu-ibu yang seperti ini. Kebanyakan ibu-ibu yang anaknya punya perkembangan fisik yang bagus pas saya tanya pasti karena hasil pabrikan.” Uhuk uhuk langsung deh batuk-batuk & keluar dari ruangan dokter dengan wajah cerah ceria. Alhamdulillah …

Eh, balik ke topik (kok jadi membanggakan diri gini hehehe). Aktifitas masak jelas tetep, tapi makanannya Tita sekarang sudah punya rumah sendiri. Mau main? Ditunggu ya, alamatnya disini, jangan sampai kesasar hehehe.

front page MLLT

Ni penampakan depannya. Tinggal ketuk-ketuk dan voilla … resep-resepnya sudah nampang. Masih sedikit juga … but soon, pasti jadi banyak.

Segitu dulu deh cerita Tita sekarang. See you there muuaacchh :-*

PAPAYA – MAMANYA

Suatu hari, “Papayaaa” (ga pake n)

Lain hari, “Mamanyaaa” (pake n)

Aiihh … apalagi ini Tita??

Panggilan-panggilan itu muncul sebulan yang lalu, ketika tiba-tiba Tita berteriak memanggil ayahnya dengan “papaya” & memanggilku dengan “mamanya”. Lah, padahal panggilan Papa-Mama (ga pake ya & nya) sudah menghilang semenjak Tita usia 11 bulan  (“ATAH & NDA”). Haishh … piye to iki?

Ceritanya dari Tita lahir aku & suami sepakat untuk memberikan panggilan kepada kami berdua dengan sebutan Papa-Mama (bahkan sempat juga mommy untukku), soalnya saudara-saudara kami banyak yang menyebut dirinya dengan Ayah-Bunda atau Ayah-Ibu. Nah, supaya ga terlalu sama, kami membiasakan panggilan Papa-Mama kepada Tita supaya lebih bervariasi :D. Tapi ga tahu kenapa & dari mana, ketika Tita usia 10m, dia memanggilku dengan sebutan Nda dan memanggil suamiku dengan sebutan Atah. Mungkin dari TV atau mungkin dari saudara-saudara kami, kami berdua ga pernah ngerti. Yang pasti panggilan itu terdengar spontan di telinga kami berdua dan seolah-olah Tita sudah paham betul kepada siapa panggilan itu ditujukan. Bahkan Akung & Ati pun heran, darimana sebutan itu berasal. Tapi yah itulah Tita, terkadang suka asal hihihi.

Atah & Nda. Oke lah kalo begitu. Kesepakatan pun berubah. Mulai saat itu, kami membiasakan diri dengan sebutan Ayah-Bunda.

Tapi oh tapi, kenapa panggilan papa-mama balik lagi Tita?? Sudah bosankah manggil Ayah & Nda?? *haduh geleng-geleng ga ngerti. Kami yang biasa bilang “Adek, sini peluk ayah …” atau “Adek, bunda cium donk …” jadi bingung mau di-bahasa-kan apa lagi :D. Mungkin kali ini dia mencoba eksplorasi nama orang tuanya dengan mencoba semua bahasa yang berdefinisi sama, yaitu Ayah & Ibu. Ga pa pa sih, cuma bingung aja mau nyebut yang mana. Tapi sekarang muncul satu lagi pertanyaan baru, kenapa ada tambahan “ya” untuk sebutan papa dan tambahan “nya” untuk sebutan mama? Hahaha Emak Bapaknya diajak mikir lagi. Bingung lagi …

Setelah beberapa waktu membiasakan diri dengan kebiasaan Tita menyebut kami dengan panggilan papa-mama ala Tita pake ya & nya, secara tidak sengaja akhirnya kami pun menemukan jawaban.

Tita paling suka belajar nama-nama buah. Alhamdulillah, setiap diminta menunjukkan gambar buah yang dimaksud, Tita langsung tahu. Mulai nama buah yang lazim banyak ditemui di pasaran dan dia temui piringnya, semisal nanas, pisang, apel dsb sampai buah yang belum pernah ditemui a.k.a hanya tahu dari gambar seperti buah peach, apricot, blackberry dsb, dia langsung tanggap. Dan buah pertama yang namanya bisa dia sebutkan dengan jelas hanya dengan melihat gambar adalah pepaya.

Nah, disinilah kuncinya. Suatu hari ketika Tita sedang memegang gambar buah-buahan dan mendapati gambar pepaya, dengan senang dan lantangnya dia berteriak, ”Mamanyaaa … Papaya” sambil tertawa ngakak. Dia tertawa sambil menunjuk gambar buah itu lalu langsung menunjuk ke arah ayahnya :D. O o o aku langsung ngeh … ternyata panggilan Papaya itu muncul kembali karena mirip dengan nama buah favorit Tita. Mungkin kata kunci inilah yang kemudian mengembalikan ingatannya akan panggilan papa-mama (kok berasa bilang anakku amnesia ya ). Kata “Pepaya” lah yang membuat memori Tita me-review kembali panggilan papa-mama yang pernah kami berikan padanya sebelum usia 10 bulan. Karena berdasar penelitian yang aku baca tapi lupa sumbernya (tar dicari deh :D), anak berusia 0-5 th adalah copycat paling bagus dari lingkunganya & memiliki kemampuan merekam yang luar biasa. Bahkan bila dilatih secara maksimal dalam satu waktu, anak 0-5th mampu menguasai 5 bahasa yang berbeda sekaligus. Wah pantesan …

Ya sebagai orang tua sih, ga ada masalah mau dipanggil apa aja oleh Tita, toh semua panggilan itu bagus dan memiliki arti sama. Apalah arti sebuah nama, bunga mawar apapun namanya tetap akan harum. Hanya saja jadi terdengar aneh ketika sudah terbiasa dengan satu panggilan harus berubah lagi.

Ah, apapun itu .. kami tetap sayang padamu our Tita :-*

Bento 911

Menyiapkan menu sehari-hari untuk suami & anak adalah kesenangan tersendiri untukku. Meskipun perlu menyisihkan segelintir waktu & ekstra ketelatenan, karena dua hal itu adalah kebutuhan yang sangat berharga sebagai ibu rumah tangga yang all-in-one sepertiku, tapi dengan niat dan cinta untuk orang-orang terkasih, setiap hidangan adalah hadiah ter-istimewaku untuk mereka. Ya walaupun tak seindah menu-menu di restoran berbintang, ataupun se-enak masakan chef-chef ternama, tapi hanya dengan melihat mereka makan dengan lahap dan berselera saja sudah cukup membuatku tahu kalau mereka menyukainya … and that’s more than enough for me :).

Masih ingat sekali, satu hari, aku mendapati Tita putri kecilku yang biasanya lahap makan, tiba-tiba terlihat ogah-ogahan melihat masakan yang aku berikan padanya. Padahal biasanya… justru dia paling ga sabar menunggu jam makan tiba. Bahkan sering kali ketika aku sedang memasak & belum selesai, dia sudah menyodorkan mangkuk makan, lengkap dengan sendok dan gelas kesayangannya. Bingunglah bundanya. Ada apa dengan Titaku ini? Apa dia sakit? Nggak ah, dia lagi sehat kok. Atau apa lagi tumbuh gigi? Nggak juga, baru saja giginya tumbuh & sekarang sedang baik-baik saja. Tunggu dulu, apa dia mulai bosan dengan masakan bundanya? Aduuuh jangan sampai deh putriku bosan sama masakan bundanya. Dan akupun mulai panik. Bukan panik yang berlebihan tapi cukup membuat bertanya tanya, kenapa?

Mencari jawaban atas kegalauan bundanya Tita ternyata ga mudah :D, surveypun dilakukan. Mulai bikin menu yang komplit & uenak menurutku, seperti nasi, sayur, lauk dengan bumbu lengkap, ditolak. Menu-menu one dish meal, ditolak. Dari yang kering-keringan sampai berkuah, ditolak. Mulai deh nyut nyutan, kepikiran kalau ga mau makan, bagaimana nutrisinya nanti?

Diantara kegalauanku, tiba-tiba datang lah sang inspirasi. Aha!! gimana kalau bikin bento buat Tita? Good idea. Tapi … bento yang bagaimana ?? Nah lho bingung lagi :D.

Ah, Inget deh kalau pernah bookmark bento sederhana punya dbento.com. Aku pun mulai belajar sedikit-sedikit. Mulai dari menentukan menu sampai ke persiapan pembuatannya. Dan aku putuskan menu pertamaku untuk percobaan membuat bento adalah Nasi Tim Teri Warna Warni. Pengalaman pertama yang riweh, karena ga punya peralatan bento sama sekali. Akhirnya terpikirlah untuk bongkar bongkar koleksi cetakan kue kering milikku. Dan ketemu motif bunga daisy yang cantik. Semangat nyetak nasi yang masih panas di piring makan putriku, berakhir dengan rasa kecewa karena kurang memuaskan hasilnya, terlalu tipis dan jadinya kurang menarik. Bongkar & bongkar lagi. Akhirnya diakal deh supaya hasilnya bisa tebal. Tumpuk 2 cetakan jadi satu, dan berhasil hehehe. Sambil komat kamit supaya menu diterima, aku persembahkan bento sederhana pertamaku ke bidadari kecilku.

Tim Teri Warna Warni

Menu bento pertamaku ini aku juluki Bento 911, karena muncul disaat genting, dan ternyata bisa menolong putriku untuk nafsu makan lagi. Awalnya dia heran melihat isi piring yang berbeda dari biasanya, dan kalau ingat waktu itu, ekspresinya menggemaskan sekali. Dengan tertawa lucu dia menyambut girang piring makanannya dengan bersemangat. Aiih … Senang rasanya. Ternyata perjuanganku setelah satu minggu berbuah manis. Dan dengan lahapnya bentoku dimakan sampai habis. Horayy 🙂

adek mam nasi warna warni

Akhirnya semangat pun timbul. Ternyata menu apa saja kalau disajikannya beda dan  secara menarik, akan menambah selera makan siapapun. Dan ternyata membuat bento tidak serumit yang aku pikirkan. Mulai bentuk yang paling sederhana pun, bisa menjadi menu bento yang menggugah selera. Mulai deh membaca semua hal tentang bento, dan sering berkunjung ke dbento.com. Dan seperti inilah hasilnya yang sempat ter-foto …

bento tita 1

bento tita

Masih sangat sederhana, tapi aku akan tetap belajar. Targetku pengen bisa buat  kyaraben karakter yang lucu-lucu. Membayangkan betapa senangnya putriku nanti kalau mendapati makanannya disajikan dalam bentuk yang lucu & menarik, membuatku tambah semangat. Bahkan sang Ayah pun sudah request pengen juga dibuatkan. Wah tambah excited rasanya. Doakan yaa … semoga bisa terwujud 🙂

Nyelip : Tulisan ini diikusertakan Kontes Aku & Bento … N menang juara III yippeee alhamdulillah 🙂

Bronchitis oh Bronchitis

Sedih banget lihat Tita demam 3 hari ga turun turun. Dikasih obat penurun panas, tetep ga turun juga. Miris rasanya, karena baru kali ini Tita sakit. Setelah satu tahun selalu sehat & ceria, baru kali ini Titaku kena demam. Panik? pasti. Bertanya tanya? jelas. Sakit apa sih naaak?? Sampai sampai ilang senyum di wajahmu. Yang ada tiap hari nangiiss aja. Wez, bawa ke dokter. Karena pikiran bundanya sudah ga rasional “jangan jangan dbd” haduuhh ketakutan sendiri rasanya. Berangkat deh ke dokter spesialis anak, mana hari sabtu lagi. Tapi alhamdulillah ada dokter praktek hari sabtu. Maklum, tinggal di kota kecil. Kalau masih di Surabaya sih pasti ada dokter spesialis anak yang praktek hari sabtu.

Setelah periksa berdasar gejala Tita yang :

  1. Demam 3 hari berturut turut suhu antara 38 dercel s/d 39 dercel
  2. Disertai batuk bawaan dari seminggu sebelumnya
  3. Tapi anak masih aktif meskipun rewel
  4. Nafas berbunyi berasa dadanya penuh dahak

ternyata diagnosa dokter, anakku kena bronkitis. Oh Gosh … kok bisa?? Ketularan siapa nak? Tapi ya sudahlah, daripada mikir darimana penyakit datang, mending mikir ngobatinnya aja. Dan ini pesen si dokter:

  1. Mandi cukup diseka, jangan dicelupin bak mandi
  2. Hindari makanan berminyak, bersantan & coklat >> semua dimakan Tita, jadi merasa bersalah hiks
  3. Hindari angin langsung, lemari es >>hooh bisa juga ya, AC, exhaust fan apa aja yang berangin
  4. Minum obatnya, kalau panas tetep dikasih parasetamol, trus ada antibiotik & epexol drop.

Celakanya, pas di hari sabtu periksain Tita, aku pun kena demam 39 dercel. Waduh apalagi ini?? Kepala rasanya sakit, badan remuk, mual, berasa mau pingsan. Tapi alhamdulillah setelah minum panadol badan sudah enakan, panas juga turun. Mungkin juga karena semangat untuk sembuhin Tita, badan jadi sembuh sendiri. Alhamdulillah nya lagi besoknya Tita sudah gak panas, cuma kenapa nafasnya masih ngkrok ngkrok yah??

Seminggu kemudian, aku putuskan balik ke dsa Tita supaya penyakitnya tuntas. Kenapa masih ada sisa dahak di dadanya dok?? Ternyata diagnosanya ganti. Tita kena alergi. Walah, kok jadi alergi. Tapi gak kaget juga sih, secara aku sendiri juga penderita alergi. Biasanya kalau ibu alergi 70% menurun ke anak. Oke deh, dengerin pesen dokter lagi deh :

  1. Sudah boleh mandi >> senengnyaaa
  2. Sudah gak apa apa kena AC dkk
  3. Makanan yang dihindari jadi ganti, Tita pantang makan unggas, telur, ikan laut & susu sapi. So, susu musti ganti susu soya.
  4. Sudah ga masalah makan gorengan, santan & coklat asal ga ada ingredients allergen nya Tita. Duuhh, padahal hobi makan ayam & telur tu.
  5. Minum obat lagi >> tapi maaf yah pak dokter, karena saya juga penderita alergi jadi konsumsi obat saya hindari dulu. Kasihan Tita harus dicekoki obat terus. Cukup hindari makanan pantangannya aja & dikuatkan imun insyaAllah pasti bisa *pengalaman diri sendiri*
  6. Kalau nafas masih ngkrok ngkrok, rajin Nebul si Tita >> alhamdulillah sudah punya sendiri *penyakitnya sama sih kayak emaknya* jadi nebul nya di rumah saja ga perlu ke rumah sakit

Bicara soal nebulasi, aku selalu prepare sama Nebulizer di rumah, karena penderita alergi seperti aku pasti perlu banget. Karena pada saat kambuh, produksi cairan di rongga dada meningkat drastis, jadi musti pake nebulizer buat mengencerkan & melancarkan jalan nafas.

Sekarang alat ini jadi teman setia di keluargaku, karena menolong sekali 🙂

Omron

Happy B’day My Dear Angel

Horaaayyy Anakku 1y sekarang … berhubung tahun ini ga ada tanggal 29 Februari, perayaan ultah Tita dibuat tanggal 3 maret >> sebenernya tanggal 2 sih bareng Ati nya Tita, tapi bikin kuenya telat hahahaha *tanggal bisa jadi alibi deh

Berhubung ga sempet bikin cake, akhirnya bikin Fruit Pizza buat Tita, supaya semua bisa makan. Cuma berhubung Nda nya Tita masih amatir, jadinya ya ga seberapa rapi. Ga pa pa lah yang penting enak 🙂

Fruit Pizza

Dan yang lebih penting, Atah & Nda berdoa buat Tita semoga Tita menjadi anak yang sehat, cerdas, kuat, baik, sayang sama orang tua, sayang sama Allah, & sayang sama semuanya. We love you so much Our Dear Angel 🙂

My New Toothbrush

Gigi Tita sudah ada 4. Dua atas tumbuh pas usia 7m, dua bawah tumbuh pas usia 9m, sekaran ini 11m giginya Tita mau numbuh lagi tapi kali ini langsung 4 di atas. Berarti sudah waktunya untuk gosok gigi … yeyyy *telat yak

Sebenarnya Tita sudah dikenalin dengan gosok gigi dari usia 6m ketika awal mpasi, hanya medianya waktu itu kain kasa. Berhubung kain kasa ini rasanya enak buat cemilan, akhirnya digigit gigit lah sama Tita & akhirnya dedel duel lah si kain kasa ini. Dan acara membersihkan mulut akhirnya berubah jadi acara tarik tambang kain kasa -_-‘.

Karena acara tarik tambang ini terus berlanjut & tambah memanas, akhirnya emaknya lah yang kalah & mengalah. Putus asa selama berbulan bulan, akhirnya dengan ketetapan hati & kekuatan komitmen tinggi, Tita HARUS belajar gosok gigi supaya giginya awet bagus. Dengan pertimbangan kain kasa yang sudah ga mungkin lagi dipake, keputusan jatuh pada toothbrush berbahan silikon, karena silikon pasti lebih liat & awet kalau digigit.

Pas jalan-jalan sama Akungnya Tita, beli deh toothbrush merk Camera, bahannya lentur & kenyal. Cocok kayaknya buat Tita yang lagi seneng masukin apa aja ke mulutnya. Daan murmer *supaya ga nyesel kalau Tita ga suka >> otak emak emak jalan terooosss.

Ini dia toothbrush Tita yang baruuu, caranya gampang tinggal masukin toothbrushnya ke jari kita, gosokin deh ke gigi & seluruh bagian mulut. Our tooth brushing moment will be soooo fun *hope *.*

toothbrushes

Mom’s Corner

Bertindak sebagai ibu rumah tangga *huidih tulisan EYD* pekerjaan dapur is a a must untuk dikerjakan. Untungnya hal hal yang berbau dapur sudah biasa aku lakukan sejak lama. Dan dapur adalah wonderland buatku, banyak pilihan mainan yang fun & menantang. Hampir mirip seperti di laboratorium lah, nyampur ini itu, ngaduk ini itu, bikin formula & bahkan nemu formula baru. Soo fun. Tapi kadang sambil nungguin masakan mateng, bosen pasti datang & melambai lambai ngajak temennya si ngantuk gangguin konsentrasi. Akhirnya, panggil pasukan anti ngantuk hahahaha apalagi kalau bukan laptop kesayangan. Harta benda paling berharga untuk nambah semangat di dapur. Aneh sih … tapi yaa gitu deh, asyik nunggu masakan -terutama yang kukus kukusan or baking baking an- sambil berselancar di dunia maya *weitz.

moms corner

Biasanya sambil nge-lappy ada kopi atau teh nemenin … & yang pasti mulut juga komat kamit, bukan baca mantra tapi ga bisa berhenti nyemil 😀 naa kalau sudah gini lupa deh tetangga. Baru nyadar kalau si baby manggil atau ada yang gablokin dari belakang. Meskipun IRT tapi kan tetep harus jadi cyber mom supaya ga ketinggalan berita. Jadi, meskipun di dapur boleh dong jari maen-maen keyboard lappy supaya ga bosen??!! Lumayan, ngelatih kecepatan jari mencet keyboard, sapa tahu jari jadi kuat buat mijitin suami kalau dia capek soalnya pekerjaan mijit itu butuh ekstra kekuatan jari jari 😀 *mekso

Baby Wrap

Awalnya punya niat untuk tidak terlalu banyak gendong-gendong baby Tita, supaya ga jadi kebiasaan kalau ada apa apa minta gendong. Tapi ternyata gendong anak itu punya efek menyenangkan yang luar biasa buat orang tuanya, jadi yang kecanduan gendong malah orang tuanya bukan babynya, terutama ketika Tita sudah mulai bisa merangkak lancar, maunya melantai terus emoh digendong. Kalau gendong bopong biasa jelas gempor ortunya hahaha, akhirnya ya pake alat bantu, niy alat bantunya :

gendongan 4

Gendongan Cuprit (selendang tradisional)

Ini gendongan pertama Tita. Punya 3, 1 beli sendiri 2 hasil kadoan. Enaknya bisa disesuaikan nyaman nggaknya posisi bayi ke ibunya. Gak enaknya, bikin pundak sakit apalagi punggung. Waktu bayi, gendongan cuprit jadi andalan karena posisi gendongnya enak, cuma begitu si baby sudah agak besaran jadi ga enak soalnya kurang flexibel.

Gendongan Nursing Wrap

Gendongan ke-2 Tita ini hasil kadoan juga 😀 (ga modal banget). Lebih enak untuk anak yang sudah gedean dikit *menurutku. Karena posisi berdiri dan strap nya yang mirip tas ransel kupikir juga bakalan lebih nyaman. Tapi ternyata oh ternyata, lebih menyiksa. Bahannya bikin gerah, pundak cepet banget capek, kalau tas ransel okelah yang dibawa buku & perlengkapan, lah ini yang dibawa bayi yang super aktif & keliatan banget Tita ga betah di gendongan ini. Hadeeeh skip deh.

Gendongan Baby Wrap

Voila!! Gendongan pertama & terakhir yang paling nyaman & menyenangkan, hasil beli sendiri (akhirnyaaa). Ni gendongan sumpah miracle banget *wez keluar lagi tuan lebay dari sarangnya. Nyaman di aku & babyku, tanganku bebas bas mau ngapain aja, nyaman banget karena strapnya lebar, bahannya ga bikin kepanasan, posisinya nempel banget ke aku, daann Tita bisa bobok nyenyak di gendonganku dengan posisi aku tetap bisa ngerjain pekerjaan rumah lainnya. O ho ho sip markosip lah. harganya agak mehong sih untuk ukuran gendongan, tapi sepadan dengan cara kerjanya. Nampang dikit aahhh

Dee & Tita

Tuu jadinya … Tita nggelendot manja kalau pake gendongan ini *jadi bener bener lupa komitmen awal *_*’

TRAGEDI Kacang Merah

Gede bener yak judul tragedinya hehehe … karena ternyata kalau diteruskan bisa berakibat fatal. Nah lho apaan itu??

Gini ni ceritanya, tapi sebelum cerita, aku jelaskan dulu para pemerannya yah biar ga bingung
Ati = Eyang Putrinya Tita = Mamahku
Nda = Mamahnya Tita = Aku
Papapa = Papahnya Tita = Tita kalau manggil papahnya pake 3 suku kata

Setelah Ati pergi ke Bandung selama hampir seminggu, pulang pulang beliau pengen nyenengin cucu katanya dengan membawa oleh oleh … Apa itu?? Taraaa kacang merah *krik krik krik suara jangkrik mode on. Ga happening banget, pulang dari bandung oleh olehnya kacang merah, kirain bawa batagor sak rombong & abangnya -_-‘

Naaa masalahnya selama perjalanan dan sampai rumah, Ati lupa untuk tidak menutup rapat rapat si kacang merah. Alhasil, berkecambahlah kacang merah ini dengan suburnya. Dengan wajah memelas, Ati minta maaf ke Nda kalau ternyata kacang merahnya sudah tumbuh subur di tasnya Ati, karena katanya kacang merah fresh gitu kalau di bandung murah banget *garuk garuk. Mikir nih, kira kira kalau diolah masih oke ga yah?? Pikiranku ragu karena kacang merah ini kan zat besinya tinggi kalau teroksidasi terlalu lama dengan oksigen, bisa bisa berubah menjadi feri atau fero >> anaknya siapa ini?? Nah kan jadinya beracun (halah teori dari manaaaa lagi??) >> jangan diketawain yah yang jurusan pergizian atau yang pinter kimia, namanya juga perkiraan. Akhirnya guling guling di internet (googling maksudnya) & nanya nanya ke milis, dapatlah jawabannya … bahwa kacang merah berkecambah itu BERACUN.

Tapi sebenarnya sampai saat ini belum ada penelitian pasti soal beracun atau tidaknya kecambah kacang merah. Beberapa artikel memuat bahwa kacang merah berkecambah beracun, tapi banyak artikel juga mengatakan kecambah kacang merah bagus untuk dikonsumsi. Halah yang bener yang mana seh?? Daripada bingung ngikut sabda Rasulullah SAW aja ”Jika ada KERAGUAN dalam dadamu, maka tinggalkanlah. Dan jika kejelekan menjadikanmu merasa berdosa dan kebaikan membuat gembira, maka sesungguhnya engkau telah ber Iman.” (HR AHMAD) >> religius bangeeett :D. Nah karena ragu, akhirnya kacang merah berkecambah itu aku serahkan kembali ke Ati untuk didonasikan ke ayam ayam milik Akung (nah lho siapa Akung?? Akung = Eyang Kakung Tita = Ayahku) supaya sehat *dan ayam Akung memang ga keracunan.

Daripada pusing mikir kecambah kacang merah beracun atau nggak, lain kali kalau beli kacang merah yang kering aja deh jangan yang basah, lebih awet dan irit *irit lagiii duhh ibu satu ini.

red bean