Category Archives: Parenting Guidance (berasa pilem)

BROKEN HEART CHILD

Namanya Dilla, gadis kecil kurus yang bulan November 2013 kemarin genap berusia 5 th. Putri pertama adik laki-laki saya a.k.a keponakan, yang mengalami disabilitas dalam mendengar atau yang lebih dikenal dengan tunarungu. Dia adalah gadis kecil yang lincah, ceria & cerdas dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Terkenal supel dan ramah baik di lingkungan rumah maupun di sekolah. Hal ini yang membuat kami semua merasa bersyukur, meskipun tidak “sesempurna” anak-anak lain namun dia memiliki sifat sikap dan karakter yang menonjol.

Berawal dari konflik berkepanjangan yang dialami kedua orang tuanya, Dilla & adiknya pun harus menelan pil pahit dan harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya berpisah. Kesepakatan pun diambil. Anak-anak dibagi dua. Dilla ikut papahnya & adik Dilla ikut mamahnya, karena usia adiknya masih 7 bulan pada saat itu. Terus terang keputusan ini membuat saya pribadi miris, karena menurut saya kenapa anak musti dibagi-bagi? anak bukanlah harta gono gini yang sering kali diributkan dan dibagi. Anak punya jiwa. Orang tua bisa berpisah, tapi kakak-adik? Apa mereka juga harus ikut menanggung akibat dari “pembagian” sepihak ini?. Mengingat keduanya masih balita dan Dilla sangat sayang kepada adiknya, sampai-sampai sering kali minta tidur bersama dalam satu box bersama adiknya meskipun tidak diijinkan oleh orang tuanya. Tidak seharusnya kakak dan adik ini dipisahkan. Ini tidak adil untuk mereka. Tapi siapalah saya ngomong seperti itu? Saya orang di luar rumah tangga mereka.

Dan saya pun telan sendiri perasaan itu karena tidak ada niat untuk ikut campur dalam urusan keluarga adik saya.

Sejak saat itu kondisi berubah drastis, sering kali kami mendapati Dilla menangis dalam diam, tanpa suara sesenggukan sedikitpun, namun air matanya terus meleleh. Sering kali dia memandangi foto-foto ketika masih bersama kedua orang tua dan adiknya, rekaman-rekaman video yang mengabadikan kebahagiaan mereka dalam satu keluarga, dan sekali lagi air matanya pun meleleh dalam diam. Bahkan dalam tidurnya pun sering kali dia menangis. Keadaan ini yang membuat kami, terutama mama saya sebagai neneknya teramat nelangsa. Mengapa dalam kesunyian hidupnya, dia masih harus beradu dengan perasaan sakit yang teramat dalam.

Puncak kesedihan Dilla pun terjadi. Siang itu sepulang dari sekolah dia menangis sesenggukan. Saya pun bertanya kepada mamah kenapa Dilla menangis, karena di sekolah Dilla termasuk anak yang kuat dan tidak pernah menangis meskipun menemui kesulitan. Mamah menjawab, Dilla menangis karena mencari mamanya, yang sudah tidak didapatinya ketika sekolah usai. Saya pun menghela nafas. Wajar, karena selama dua bulan ini Dilla tidak pernah bertemu dengan mamanya sama sekali, dan baru bertemu sehari kemarin. Dengan ceria berangkat sekolah diantar mamanya, tapi ternyata ketika pulang sekolah, tugas itu sudah diambil alih kembali oleh neneknya. Dilla pun terus menangis, sambil merajuk kepada Atinya (panggilan cucu-cucu mama kepada mama saya) supaya diantar ke mamahnya kembali. Tapi Ati Cuma bisa berkata “Tunggu papa Dilla pulang kerja dulu ya nak, nanti kesana sama papa Dilla.” Dan kekecewaan itu jelas terbaca di wajahnya. Tangisannya pun tak mau berhenti. Yang biasanya ketika pulang sekolah dan mendapati Tita sepupunya (putri saya) langsung ceria dan bermain bersama, kali ini  sama sekali tidak mau didekati. Bahkan malah marah-marah dengan gaya bahasanya sendiri. Saya pun menyarankan mama untuk telpon ke adik saya, papahnya Dilla yang sedang bekerja saing itu, minta ijin supaya bisa mengantarkan Dilla ke mamahnya, karena terlihat jelas rasa kangen teramat yang dia rasakan kepada mamahnya sudah tidak dapat dibendung lagi. Tapi ternyata ijin itu tidak didapat. Mama pun merayu Dilla untuk bermain game computer kegemarannya supaya bisa sedikit melupakan keinginannya. Dan rayuan itupun mengena. Akhirnya Dilla pun asyik dengan permainannya. Tapi tetap, tatapan matanya kosong.

Sambil ditemani Akung yang mulai tertidur di kursi, Dilla pun terus asyik bermain dengan komputernya. Saya pun masuk kamar untuk menidurkan si kecil yang mulai rewel. Pun mama juga meng-istirahatkan tubuh dan pikirannya, karena penyakit hipertensi yang dideritanya selama ini takut kambuh lagi karena kelelahan fisik dan psikis. Saya pun ikut tertidur seiring tidurnya Tita. Namun tiba2 badan saya diguncang-guncangkan dengan keras, dan mendengar kepanikan mama bahwa Dilla sudah tidak ada di rumah. Saya pun kaget dan langsung bangun dari tempat tidur meninggalkan Tita yang masih terlelap dengan pulasnya. Kami mencari ke seluruh penjuru rumah, dan hasilnya nol. Ayahpun berinisiatif mencari Dilla menggunakan sepeda motor, dengan asumsi paling gila bahwa Dilla sepertinya nekat menyusul ke tempat mamahnya. Meskipun hampir tidak mungkin untuk anak seusia Dilla yang pergi sendiri tanpa membawa apa-apa dan hanya menggunakan kaos kutang dan celana dalam, tapi untuk saat ini kami mengambil kemungkinan itu karena Dilla memang hafal jalan menuju tempat mamanya. Tapi dengan jalan kaki sendiri, akan sangat mustahil untuk Dilla bisa sampai ke tujuan, mengingat jarak antara rumah mamah saya dan tempat mama Dilla terhitung lumayan jauh. Sambil berharap dan berdoa semoga Dilla ditemukan dalam keadaan baik-baik saja, saya pun tidak tinggal diam. Setiap orang yang saya temui sambil menyusuri jalan, saya tanyakan kalau-kalau bertemu dengan Dilla. Ternyata tetap nol. Tapi tiba-tiba Alhamdulillah Allah maha melindungi, seorang tetangga yang baru saja sampai di depan pagar rumahnya mengendarai sepeda motor mengatakan bahwa dia bertemu dengan Dilla naik sepeda motor bersama Ayah saya. Ya Allah … sayapun bergegas pulang. Tepat bersamaan dengan ayah saya sampai di rumah … bersama Dilla. Begitu turun dari sepeda motor, mama menyambut dengan tangisan sambil menggendong memeluk Dilla erat (mama sangat dekat dengan Dilla), ayah pun terlihat meneteskan air mata begitu juga saya. Ya Allah … Alhamdulillah, terima kasih Engkau telah mengembalikan DIlla kepada kami lagi dalam keadaan baik-baik saja sama seperti ketika dia meninggalkan rumah.

Dengan meringkuk di pangkuan mama dan bersembunyi di ketiaknya sambil terus meneteskan air mata, seolah-olah ingin mengatakan bahwa dia merasa sangat bersalah kepada kami semua karena telah meninggalkan rumah,  Ayahpun bercerita bagaimana beliau bisa menemukan Dilla. Setelah berputar-putar di sekitar tempat tinggal kami, Ayah mencoba menyusuri jalan raya, berharap semoga Dilla memang melalui jalur itu untuk menuju ke tempat mamahnya. Setiap anak kecil yang memakai kaus kutang dan celana dalam diperhatikannya sungguh-sungguh. Sampai-sampai selokan besar di pinggir-pinggir jalan pun dilihat oleh ayah, takut kalau-kalau Dilla terperosok di dalamnya. Ketika sampai di jalan raya yang ramai dengan kendaraan-kendaraan besar seperti truk dan bis, ayah melihat seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan Dilla berjalan berlawanan arah dengan Ayah. Ayahpun langsung menghampirinya yang ternyata memang Dilla. Berjalan sendiri dengan wajah yang terlihat lelah tapi sama sekali tidak menangis, seolah-olah tekadnya sudah bulat untuk menyusul mamanya. Tapi saat itu arah Dilla berjalan berlawanan dengan arah menuju tempat mamanya. Mungkin Dilla merasa lelah untuk melanjutkan perjalanan atau mungkin merasa bingung berada di jalan raya berjalan sendirian, dan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke rumah mama. Entahlah… hanya Dilla sendiri yang tahu kenapa. Ayah pun mengajak Dilla naik ke sepeda motor, dan Dilla menurut tanpa pemberontakan. Yang pasti kami semua merasa bersyukur Dilla sudah kembali ke tengah-tengah kami lagi., Kami sangat bersyukur Allah masih bermurah hati melindungi Dilla ketika jauh dari rumah, karena segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Kami bersyukur tidak ada orang jahat yang memanfaatkan situasi melihat anak kecil berjalan sendiri di jalan raya. Kami bersyukur selokan besar tidak membuat mata Dilla lengah, kami bersyukur trotoar berlubang tidak membuat Dilla terperosok. Kami bersyukur tubuh kecil itu tidak menyeberangi jalan diantara kendaraan-kendaraan besar yang melaju kencang. Dan kami bersyukur atas semuanya.

Ini teguran keras untuk kami semua, terutama orang tua Dilla dan juga para orang tua yang lain, termasuk saya. Betapa anak memiliki kekuatan luar biasa yang terkadang diremehkan oleh kita orang dewasa yang menganggap mereka lemah. Entah keberanian dari mana anak sekecil itu berjalan mengikuti hatinya yang sudah tidak dapat membendung keinginan untuk bertemu orang yang juga sangat dia sayangi, yaitu ibunya. Padahal kasih sayang dari kami keluarganya terutama papanya tidak pernah kurang. Dari mana tekad kuatnya itu datang untuk memenuhi hasratnya bertemu dengan orang yang sudah melahirkan dan juga memberinya kasih sayang, hingga timbul dorongan untuk menyusulnya. Sampai saat ini saya masih benar-benar tidak mengeti. Mungkin memang inilah jeritan hati seorang anak yang mengalami patah hati.

Oh Dilla … kamu adalah guru kami saat ini. Kamu mengajarkan kepada kami ketulusan dan keberanian yang luar biasa. Tekad kuat dan kemurnian hati tiada tara yang belum tentu kami miliki. Terima kasih … pelajaranmu teramat sangat berharga. Tapi,  jangan bikin kami khawatir lagi ya nak … :’-)

Ketika menulis ini saya pandangi Tita yang sedang tidur. “Kalau kamu bangun nanti nak, bunda janji akan terus menjaga perasaanmu, menyayangimu, memeluk dan menciummu sampai kamu merasakan kebahagiaan yang teramat sebagai anak Ayah & Bunda. Bunda akan selalu melindungimu sampai nafas bunda tak lagi bersatu dengan raga ini. Luv u much my angel … “

Tulisan ini sudah dibaca adik saya dan diijinkan untuk dipublikasikan