Category Archives: My Other Notes

SELF MOTIVATED Part 1

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

Penggalan ayat surat Al-Baqarah 286 di atas, meskipun hanya sebaris, tapi sering kali jadi kekuatan psikologis untukku menghadapi apapun yang memberatkan jiwa & raga. Segala ke-tidaksanggupan yang menyesakkan dada, disertai air mata dalam diam, seketika luruh dan berubah menjadi semangat tersendiri untuk menghadirkan pelangi setelah badai. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, walaupun harus dilalui dengan segala kesulitan.

Yepp!! Hidup memang ga mudah, karena semua harus dilalui lewat perjuangan. Tapi yang tetap harus diingat bahwa ga ada perjuangan yang sia sia karena Allah tidak pernah tidur, hanya sabar & tawakal yang bisa membantu kita meringankan segala beban. Aahh jadi inget satu masa ketika duduk di ruang kelas kuliah psikologi. Bahwa setiap manusia punya defense mechanisme yang tidak disadari & secara otomatis akan muncul ketika ada ancaman dari luar. Bahkan secara ilmiah pun kemampuan untuk bertahan & berjuang itu ada pada setiap manusia. Hanya saja bagaimana cara kita mengolah sistem pertahanan kita menjadi perilaku yang positif, itu yang penting.

Dalam ke-tidakberdaya-an & kelumpuhan, kata “semangat” adalah harta karun berharga yang paling dicari siapapun. Betapa sulitnya mencari semangat untuk bisa bangkit & terus berlari ketika terpuruk. Coba seandainya ada toko yang menjualnya, dijamin pasti laku.

Kadang terpikir ga bisa bayangin kalau seandainya aku seperti mario teguh yang bisa mengucapkan kalimat kalimat berefek menginjeksi motivasi orang lain, apa aku juga bisa kuat menginjeksi diriku sendiri?

Kalau aku seperti Oprah Winfrey, yang dijadikan inspirator bagi jutaan orang, apa aku juga bisa kuat mempertahankan halo effect yang menempel di aku?

Kalau aku si Obama yang jadi Presidaen USA orang kulit hitam pertama, apa aku juga bisa membendung kritikan bertubi-tubi

Ternyata memang Allah sudah menempatkan setiap orang pada posisinya masing … tinggal bagaimana kita pandai bersyukur & mensyukuri segala yang kita punya. Berat memang, tapi tetap yakin bisa menjalani. Karena … Allah tidak membebani suatu keadaan di luar kemampuan kita.

Mulai semua dengan Bismillah 🙂

Advertisements

Kemanakah Kolam Susu Itu?

Lake (pict. from google image)

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
(Kolam Susu ; courtesy by Koes Plus)

Aah, miris sekali rasanya kalau membaca sepenggal syair lagu Koes Plus itu. Betapa indah & makmurnya lukisan negara kita. Seakan-akan memberikan gambaran tentang surga yang benar-benar ada di dunia. Tapi bagaimana dengan kenyataannya? Bisa kita lihat, betapa susah mencari ikan di laut karena bahan bakar kapal, yaitu solar sulit sekali didapat. Betapa susahnya ber-tani & bercocok tanam karena harga bibit dan pupuk yang melambung. Dan betapa susahnya mencari lapangan pekerjaan karena belum terpenuhinya SDM yang memadai sedangkan angka kelulusan mahasiswa semakin meningkat tiap tahunnya.

Kenapa tiba-tiba saya mencoba meneropong kondisi ini? Padahal saya termasuk orang yang “sebodo ah” dengan kondisi sosial kemasyarakatan di negara tercinta kita. Bukannya tidak peduli dengan sekitar, tapi lebih pada ‘sudah terbelenggu’ dengan kondisi & situasi yang serba sulit. Skeptis? Jelas tidak. Karena hari esok masih panjang & kita-kita ini sebagai penerus Kartini harus bisa mencetak SDM yang lebih dan lebih unggul lagi.

Eits, jadi panjang ngelanturnya, kembali kepertanyaan di atas, kenapa saya tiba-tiba mencoba mengkritisi keadaan di negara tercinta ini? Semua berawal dari perasaan kehilangan & kerinduan pada saudara-saudara yang lebih memilih merantau ke negara orang daripada menyumbangkan kompetensinya di negri sendiri. Kedengarannya berlebihan yah? Sebenarnya tidak berlebihan, karena hubungan saya & saudara-saudara termasuk dekat -saudara di sini adalah selain ayah,ibu & adik-adik kandung saya. Kami keluarga besar yang memiliki ikatan persaudaraan yang kuat, yang satu sama lain selalu berusaha ‘keep in touch’ hanya untuk menanyakan sedang apakah sekarang ?. Jadi, perasaan kehilangan itu benar-benar ada. Ditambah lagi dengan keinginan mereka untuk menetap di negara-negara tersebut. Aih, entah kapan lagi bisa bertemu & kontak fisik secara langsung, tidak hanya sekedar lewat YM & Skype.

Semua itu dimulai dari Om yang memilih mengais Euro di Belanda sebagai tenaga engineer di salah satu perusahaan ekspedisi, dilanjut dengan sepupu tertua -dari bude tertua pula- yang lebih memilih stay di Jerman sebagai tenaga farmasi. Kakak sepupu yang lebih suka menyusul bos nya yang pindah ke Taiwan sebagai tenaga IT di perusahaan mobil terkemuka, dan dua orang adik sepupu di Singapura yang mencoba peruntungan sebagai tenaga lepas. Dan sampai dengan tetangga-tetangga yang mencari mata uang selain rupiah sebagai TKW.

Mereka-mereka ini, sebenarnya sangat bermanfaat untuk kemajuan negeri, mereka juga bisa berjuang untuk negeri ini, tapi kenapa lebih memilih untuk bergabung dengan para ekspatriat yang menjanjikan gepokan uang yang lebih tebal? Jawabannya ternyata sama : “Bukan sekedar uang Dee (panggilan saya hehehe) tapi lebih pada penghargaan yang sepadan. Kami ini belajar untuk mendapat kehidupan yang lebih layak, dihargai sesuai dengan kemampuan kami, tapi ternyata?? Ga sesuai seperti yang diharapkan.” Wah jadi ingat kata-kata adik laki-laki saya “Hidup emang sulit man, seringkali impian ga sesuai dengan kenyataan. Realistis ajalah.” Hmmmm … ga salah sih kata-kata adik saya, tapi setiap orang juga punya aktualisasi diri yang berbeda-beda, jadi realistis-nya adik saya jelas beda dengan saudara-saudara saya yang lain. Apalagi dengan tetangga-tetangga yang memilih untuk jadi TKW daripada kerja di pabrikan atau sebagai ART, kalau mereka bisa bicara dengan bahasa intelek, mungkin mereka juga bakal bilang, “Kami sebenernya juga mau aja kalau harus bekerja di kampung halaman, tapi ya permudah jugalah kesempatan kita untuk itu, lha kami butuh duit untuk sekolah anak-anak, untuk makan sehari-hari, belum juga menghidupi kedua orang tua dan saudara-saudara kami yang lain. Mana harga barang-barang pada naik. Tapi justru sekarang kenyataannya malah keberadaan kami dianggap sebagai komoditas yang menguntungkan untuk dijual ke negara lain, tanpa ada jaminan keselamatan.”

Nah lho … susah kan kalau sudah seperti itu. Sedangkan kalau bicara siapa yang salah & siapa yang benar, ga akan ada habisnya. Pemerintah yang seharusnya me-manajemen-i rakyatnya justru sibuk dengan kepentingan masing-masing. Sedangkan rakyat butuh kehidupan yang lebih layak, lebih tenang, harmonis & kondusif. Yah, memang susah …

Lha kalau saya sendiri ditanya menurut pendapatmu gimana tentang fenomena ini? jawaban saya cuma “Hanya Tuhan dan mereka sendiri Yang tahu, ya pemerintah, sepupu-sepupu saya, para TKW, apa yang sebenarnya mereka cari di dunia ini & bagaimana cara menghadapinya” gampang & ga perlu penjelasan hehehe *curangdikitdotcom

Kalau keinginan & harapan? Kembalikan saudara-saudara sayaaaa

Lha terus kemana jadinya kolam susu itu? Yang jelas tetap ada. Ya di syair lagu Koes Plus yang judulnya Kolam Susu itu hehehehe

Memang syair selalu bisa membungkus lagu dengan indah. Gud nite 🙂

—Just intermezo ga penting, yang ga pernah ada jawabannya. Selamat mumet hehehe—

Hanya sesuatu yang ingin keluar dari otakku :)

Seorang ksatria datang dari medan perang … dengan memegang pedang yang berlumuran darah dan perisai yang tak seindah ketika dibuat, dia berjalan dengan badan penuh luka. Entah apa yang coba dia perjuangkan, cintanya akan sesuatu yang dia kejar ataukah hanya memperjuangkan egonya yang sudah terlukai.

Dia datang kepadaku, dengan jalannya yang tertatih dan mata yang masih mencari. “Ada apa denganmu wahai ksatria?” tanyaku, dan dia terdiam panjang
“Perang ini membuatku lelah” jawabnya.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari perang ini? Kemenangankah?”
Dan dia mengangguk pelan.
“Jika kamu masih sanggup untuk memperjuangkan kemenanganmu … lanjutkanlah. Lanjutkan dengan semangatmu yang masih tersisa”
Dan dia kembali terdiam.
“Tapi aku sudah lelah, sangat lelah.”
Aku iba melihatnya. Dalam dirinya yang tampak kokoh ternyata dia juga bisa terjatuhsangat dalam.
Aku bertanya padanya,
“Jika boleh aku bertanya … untuk siapa dan untuk apakah perjuanganmu ini?”
Dia hanya menjawab singkat, “Aku tak tahu”

Aku menghela nafas panjang.
“Betapa gagah dan perkasanya dirimu ketika pertama kali perang ini dimulai, lihat dirimu sekarang, penuh luka dan rasa sakit yang sangat. Perjuangkanlah apa yang layak kamu perjuangkan. Tapi janganlah jadi pahlawan yang hanya memperjuangkan ego, berilah kesempatan pada dirimu untuk memutuskan strategi terbaikmu untuk memenangkan peperangan ini.”
Dia menatapku. “Perang ini terlalu kejam, tak peduli berapa banyak nyawa dan hati yang terlukai.”
“Dan kamu ingin melanjutkan? Meskipun kamu tahu badan, hati, dan pikiranmu telah lelah. Apa yang membuatmu enggan berhenti?”
Dia hanya terdiam.

“Apapun alasanmu … aku tidak akan bertanya lagi padamu. Tapi perang ini telah merenggut semuanya, tak seharusnya perang ini dilanjutkan. Akan ada banyak lagi yang terlukai karenanya. Melihatmu seperti ini, apa yang bisa kulakukan?”
Dia menatapku dengan iba dan berkata “Tidakkah kau ingin membantuku? Apa yang harus aku lakukan dengan ini semua? Pengorbananku, semangat dan keinginan kuatku sekarang ini hilang. Wahai engkau yang selalu ada, bisakah kau pinjamkan sedikit saja kekuatanmu kepadaku?”
Aku menghampirinya, kuusap kepalanya dan kurengkuh dia dalam dekapku
Butir demi butir airmata mengalir diantara pori-pori kain bajuku
Oh Tuhan sedalam inikah rasa sakit dalam dirinya, dia simpan semua diantara keperkasaannya, diantara tajam pedangnya, dan diantara baju perang yang kini ikut terkoyak bersama hatinya.
Aku lepaskan tanganku dan kutatap matanya.
“Ksatria, ketahuilah … bahwa kemenangan perang yang sesungguhnya itu bukan dari berapa kali pedangmu terhunus dan menusuk musuhmu, bukan juga dari masih utuhkah baju zirah yang kau pakai, dan bukan juga dari berapa luas daerah yang mampu kau taklukkan. Tapi ketika hatimu mampu memberikan pengorbanan itu dengan ikhlas, menjalani perang ini dengan keteguhan hati, dan meletakkan setiap ambisi yang menguasai … meski tanpa tahu pasti akan seperti apa hasil yang engkau dapat. Maka, saat itulah sebenarnya engkau telah menikmati kemenanganmu yang sebenarnya. Air mata yang sekarang adalah air mata ambisimu yang teruntuhkan oleh egomu yang terlalu kuat.”

“Berdirilah wahai ksatria yang perkasa, berikan senyummu pada mereka yang juga ikut berjuang bersamamu, maka engkau akan menyadari betapa perang ini akan menjadi indah. Darah yang telah tertumpah dan kepedihan yang ikut menyertai bukanlah suatu keabadian. Dia bisa hilang dan tergantikan dengan indahnya hari esok yang baru. Asal engkau juga mau berjanji untuk menciptakannya. Sarungkan lagi pedangmu, lepaskan baju perangmu, bersihkan dirimu, dan pulanglah. Buang semua lelahmu, istirahatlah.
Ada yang menunggumu disana. Dan jika tenagamu telah pulih, semangatmu telah kembali, dan pikiranmu telah jernih maka putuskanlah, akankah perang ini kau lanjutkan atau tidak. Pulanglah wahai ksatria”

Dia hanya menatapku dalam diam, kemudian dia raih tanganku sambil berkata
“Terima kasih wahai mata yang menyejukkan, engkau telah membuatku tahu, mengapa aku ada disini dan harus berada disini. Aku akan pulang, akan aku bawa semua letihku ini dalam tidurku. Dan esok jika aku terbangun dari tidurku, aku pasti telah tahu apa yang harus kulakukan.”
Aku tersenyum lega ketika bisa melihatnya berjalan kembali dengan gagah menuju hidup yang seharusnya dia jalani.

Dan esok ketika pikiranmu telah jernih dan lelahmu telah hilang … kembalilah, karena tempatmu adalah disini.