Kemanakah Kolam Susu Itu?

Lake (pict. from google image)

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
(Kolam Susu ; courtesy by Koes Plus)

Aah, miris sekali rasanya kalau membaca sepenggal syair lagu Koes Plus itu. Betapa indah & makmurnya lukisan negara kita. Seakan-akan memberikan gambaran tentang surga yang benar-benar ada di dunia. Tapi bagaimana dengan kenyataannya? Bisa kita lihat, betapa susah mencari ikan di laut karena bahan bakar kapal, yaitu solar sulit sekali didapat. Betapa susahnya ber-tani & bercocok tanam karena harga bibit dan pupuk yang melambung. Dan betapa susahnya mencari lapangan pekerjaan karena belum terpenuhinya SDM yang memadai sedangkan angka kelulusan mahasiswa semakin meningkat tiap tahunnya.

Kenapa tiba-tiba saya mencoba meneropong kondisi ini? Padahal saya termasuk orang yang “sebodo ah” dengan kondisi sosial kemasyarakatan di negara tercinta kita. Bukannya tidak peduli dengan sekitar, tapi lebih pada ‘sudah terbelenggu’ dengan kondisi & situasi yang serba sulit. Skeptis? Jelas tidak. Karena hari esok masih panjang & kita-kita ini sebagai penerus Kartini harus bisa mencetak SDM yang lebih dan lebih unggul lagi.

Eits, jadi panjang ngelanturnya, kembali kepertanyaan di atas, kenapa saya tiba-tiba mencoba mengkritisi keadaan di negara tercinta ini? Semua berawal dari perasaan kehilangan & kerinduan pada saudara-saudara yang lebih memilih merantau ke negara orang daripada menyumbangkan kompetensinya di negri sendiri. Kedengarannya berlebihan yah? Sebenarnya tidak berlebihan, karena hubungan saya & saudara-saudara termasuk dekat -saudara di sini adalah selain ayah,ibu & adik-adik kandung saya. Kami keluarga besar yang memiliki ikatan persaudaraan yang kuat, yang satu sama lain selalu berusaha ‘keep in touch’ hanya untuk menanyakan sedang apakah sekarang ?. Jadi, perasaan kehilangan itu benar-benar ada. Ditambah lagi dengan keinginan mereka untuk menetap di negara-negara tersebut. Aih, entah kapan lagi bisa bertemu & kontak fisik secara langsung, tidak hanya sekedar lewat YM & Skype.

Semua itu dimulai dari Om yang memilih mengais Euro di Belanda sebagai tenaga engineer di salah satu perusahaan ekspedisi, dilanjut dengan sepupu tertua -dari bude tertua pula- yang lebih memilih stay di Jerman sebagai tenaga farmasi. Kakak sepupu yang lebih suka menyusul bos nya yang pindah ke Taiwan sebagai tenaga IT di perusahaan mobil terkemuka, dan dua orang adik sepupu di Singapura yang mencoba peruntungan sebagai tenaga lepas. Dan sampai dengan tetangga-tetangga yang mencari mata uang selain rupiah sebagai TKW.

Mereka-mereka ini, sebenarnya sangat bermanfaat untuk kemajuan negeri, mereka juga bisa berjuang untuk negeri ini, tapi kenapa lebih memilih untuk bergabung dengan para ekspatriat yang menjanjikan gepokan uang yang lebih tebal? Jawabannya ternyata sama : “Bukan sekedar uang Dee (panggilan saya hehehe) tapi lebih pada penghargaan yang sepadan. Kami ini belajar untuk mendapat kehidupan yang lebih layak, dihargai sesuai dengan kemampuan kami, tapi ternyata?? Ga sesuai seperti yang diharapkan.” Wah jadi ingat kata-kata adik laki-laki saya “Hidup emang sulit man, seringkali impian ga sesuai dengan kenyataan. Realistis ajalah.” Hmmmm … ga salah sih kata-kata adik saya, tapi setiap orang juga punya aktualisasi diri yang berbeda-beda, jadi realistis-nya adik saya jelas beda dengan saudara-saudara saya yang lain. Apalagi dengan tetangga-tetangga yang memilih untuk jadi TKW daripada kerja di pabrikan atau sebagai ART, kalau mereka bisa bicara dengan bahasa intelek, mungkin mereka juga bakal bilang, “Kami sebenernya juga mau aja kalau harus bekerja di kampung halaman, tapi ya permudah jugalah kesempatan kita untuk itu, lha kami butuh duit untuk sekolah anak-anak, untuk makan sehari-hari, belum juga menghidupi kedua orang tua dan saudara-saudara kami yang lain. Mana harga barang-barang pada naik. Tapi justru sekarang kenyataannya malah keberadaan kami dianggap sebagai komoditas yang menguntungkan untuk dijual ke negara lain, tanpa ada jaminan keselamatan.”

Nah lho … susah kan kalau sudah seperti itu. Sedangkan kalau bicara siapa yang salah & siapa yang benar, ga akan ada habisnya. Pemerintah yang seharusnya me-manajemen-i rakyatnya justru sibuk dengan kepentingan masing-masing. Sedangkan rakyat butuh kehidupan yang lebih layak, lebih tenang, harmonis & kondusif. Yah, memang susah …

Lha kalau saya sendiri ditanya menurut pendapatmu gimana tentang fenomena ini? jawaban saya cuma “Hanya Tuhan dan mereka sendiri Yang tahu, ya pemerintah, sepupu-sepupu saya, para TKW, apa yang sebenarnya mereka cari di dunia ini & bagaimana cara menghadapinya” gampang & ga perlu penjelasan hehehe *curangdikitdotcom

Kalau keinginan & harapan? Kembalikan saudara-saudara sayaaaa

Lha terus kemana jadinya kolam susu itu? Yang jelas tetap ada. Ya di syair lagu Koes Plus yang judulnya Kolam Susu itu hehehehe

Memang syair selalu bisa membungkus lagu dengan indah. Gud nite 🙂

—Just intermezo ga penting, yang ga pernah ada jawabannya. Selamat mumet hehehe—

Advertisements

2 thoughts on “Kemanakah Kolam Susu Itu?

  1. kolam nya masih ada, air nya juga masih ada, hanya susunya aja ga ada lagi, susu udah ga dikolam tp udah di kalengin, hehhehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s