Hanya sesuatu yang ingin keluar dari otakku :)

Seorang ksatria datang dari medan perang … dengan memegang pedang yang berlumuran darah dan perisai yang tak seindah ketika dibuat, dia berjalan dengan badan penuh luka. Entah apa yang coba dia perjuangkan, cintanya akan sesuatu yang dia kejar ataukah hanya memperjuangkan egonya yang sudah terlukai.

Dia datang kepadaku, dengan jalannya yang tertatih dan mata yang masih mencari. “Ada apa denganmu wahai ksatria?” tanyaku, dan dia terdiam panjang
“Perang ini membuatku lelah” jawabnya.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari perang ini? Kemenangankah?”
Dan dia mengangguk pelan.
“Jika kamu masih sanggup untuk memperjuangkan kemenanganmu … lanjutkanlah. Lanjutkan dengan semangatmu yang masih tersisa”
Dan dia kembali terdiam.
“Tapi aku sudah lelah, sangat lelah.”
Aku iba melihatnya. Dalam dirinya yang tampak kokoh ternyata dia juga bisa terjatuhsangat dalam.
Aku bertanya padanya,
“Jika boleh aku bertanya … untuk siapa dan untuk apakah perjuanganmu ini?”
Dia hanya menjawab singkat, “Aku tak tahu”

Aku menghela nafas panjang.
“Betapa gagah dan perkasanya dirimu ketika pertama kali perang ini dimulai, lihat dirimu sekarang, penuh luka dan rasa sakit yang sangat. Perjuangkanlah apa yang layak kamu perjuangkan. Tapi janganlah jadi pahlawan yang hanya memperjuangkan ego, berilah kesempatan pada dirimu untuk memutuskan strategi terbaikmu untuk memenangkan peperangan ini.”
Dia menatapku. “Perang ini terlalu kejam, tak peduli berapa banyak nyawa dan hati yang terlukai.”
“Dan kamu ingin melanjutkan? Meskipun kamu tahu badan, hati, dan pikiranmu telah lelah. Apa yang membuatmu enggan berhenti?”
Dia hanya terdiam.

“Apapun alasanmu … aku tidak akan bertanya lagi padamu. Tapi perang ini telah merenggut semuanya, tak seharusnya perang ini dilanjutkan. Akan ada banyak lagi yang terlukai karenanya. Melihatmu seperti ini, apa yang bisa kulakukan?”
Dia menatapku dengan iba dan berkata “Tidakkah kau ingin membantuku? Apa yang harus aku lakukan dengan ini semua? Pengorbananku, semangat dan keinginan kuatku sekarang ini hilang. Wahai engkau yang selalu ada, bisakah kau pinjamkan sedikit saja kekuatanmu kepadaku?”
Aku menghampirinya, kuusap kepalanya dan kurengkuh dia dalam dekapku
Butir demi butir airmata mengalir diantara pori-pori kain bajuku
Oh Tuhan sedalam inikah rasa sakit dalam dirinya, dia simpan semua diantara keperkasaannya, diantara tajam pedangnya, dan diantara baju perang yang kini ikut terkoyak bersama hatinya.
Aku lepaskan tanganku dan kutatap matanya.
“Ksatria, ketahuilah … bahwa kemenangan perang yang sesungguhnya itu bukan dari berapa kali pedangmu terhunus dan menusuk musuhmu, bukan juga dari masih utuhkah baju zirah yang kau pakai, dan bukan juga dari berapa luas daerah yang mampu kau taklukkan. Tapi ketika hatimu mampu memberikan pengorbanan itu dengan ikhlas, menjalani perang ini dengan keteguhan hati, dan meletakkan setiap ambisi yang menguasai … meski tanpa tahu pasti akan seperti apa hasil yang engkau dapat. Maka, saat itulah sebenarnya engkau telah menikmati kemenanganmu yang sebenarnya. Air mata yang sekarang adalah air mata ambisimu yang teruntuhkan oleh egomu yang terlalu kuat.”

“Berdirilah wahai ksatria yang perkasa, berikan senyummu pada mereka yang juga ikut berjuang bersamamu, maka engkau akan menyadari betapa perang ini akan menjadi indah. Darah yang telah tertumpah dan kepedihan yang ikut menyertai bukanlah suatu keabadian. Dia bisa hilang dan tergantikan dengan indahnya hari esok yang baru. Asal engkau juga mau berjanji untuk menciptakannya. Sarungkan lagi pedangmu, lepaskan baju perangmu, bersihkan dirimu, dan pulanglah. Buang semua lelahmu, istirahatlah.
Ada yang menunggumu disana. Dan jika tenagamu telah pulih, semangatmu telah kembali, dan pikiranmu telah jernih maka putuskanlah, akankah perang ini kau lanjutkan atau tidak. Pulanglah wahai ksatria”

Dia hanya menatapku dalam diam, kemudian dia raih tanganku sambil berkata
“Terima kasih wahai mata yang menyejukkan, engkau telah membuatku tahu, mengapa aku ada disini dan harus berada disini. Aku akan pulang, akan aku bawa semua letihku ini dalam tidurku. Dan esok jika aku terbangun dari tidurku, aku pasti telah tahu apa yang harus kulakukan.”
Aku tersenyum lega ketika bisa melihatnya berjalan kembali dengan gagah menuju hidup yang seharusnya dia jalani.

Dan esok ketika pikiranmu telah jernih dan lelahmu telah hilang … kembalilah, karena tempatmu adalah disini.

Advertisements

2 thoughts on “Hanya sesuatu yang ingin keluar dari otakku :)

  1. suka dengan kalimat ini Ksatria, ketahuilah … bahwa kemenangan perang yang sesungguhnya itu bukan dari berapa kali pedangmu terhunus dan menusuk musuhmu, bukan juga dari masih utuhkah baju zirah yang kau pakai, dan bukan juga dari berapa luas daerah yang mampu kau taklukkan. Tapi ketika hatimu mampu memberikan pengorbanan itu dengan ikhlas, menjalani perang ini dengan keteguhan hati, dan meletakkan setiap ambisi yang menguasai … meski tanpa tahu pasti akan seperti apa hasil yang engkau dapat. Maka, saat itulah sebenarnya engkau telah menikmati kemenanganmu yang sebenarnya. Air mata yang sekarang adalah air mata ambisimu yang teruntuhkan oleh egomu yang terlalu kuat.”
    dalam sekali maknanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s