BYE BYE SEMBELIT DAN KONSTIPASI

Sembelit dan konstipasi? Uh … Sangat menyebalkan.

Ini baru saya yang ngomong sebagai orang dewasa. Lha kalau anak yang ngerasain sampai nangis-nangis? Haish … luluh lantak pasti hati ibu nya.

Ini juga yang dialami Tita. Dari bayi, sembelit ga pernah jauh-jauh dari Dia. Seingatku, dari mulai usia 1 bulan, Tita sudah susah BAB nya, kadang bisa sampai 4-5 hari ga BAB. Meskipun menurut DSA, ini masih hitungan wajar sebagai reaksi bayi terhadap ASI atau Sufor, tapi sebagai ibu nya yang pagi-siang-sore-malam selalu menghabiskan waktu bersama, jelas sedih, galau, sakit hati, bahkan meraung-raung dibuatnya. Bukan mengada-ada lho … siapa ga prihatin lihat anak ngeden-ngeden tapi ga keluar pup nya, dilanjut dengan tangisan membahana yang bikin pilu. Dan tidak berhenti sampai disitu, bahkan sampai Tita sebesar ini (sekarang 2,5th) masih saja perkara sembelit menghantui pertumbuhan dan perkembangannya.

Seperti kasus sembelit yang terakhir, sekali lagi Tita harus merasakan sakitnya BAB yang membuatnya menangis kenceng-kenceng dan berlarian kesana kemari untuk menahan rasa sakit (merusak acara toilet training-nya Tita hiks). Haduuh ga kebayang sedihnya setiap kali lihat Tita seperti itu. Segala cara sudah ditempuh, mulai konsumsi buah-buahan, sayuran hijau, madu, prebiotik, suplemen buah dan sayur, tapi hasilnya tetap sama, Tita menangis dan berteriak setiap BAB. Namun kali ini lebih parah karena disertai perut kembung, rasa sakit diperut yang membuatnya sering terbangun tengah malam, dan puncaknya Tita demam. Bukan demam tinggi sih, karena suhu badannya “hanya” berkisar antara 36,8-37,4 dercel tapi sudah cukup membuat aku panik. Akhirnya, balik lagi ke DSA. Dan alhasil 5 jenis obat yang harus diminum dan cek urin di laboratorium untuk melihat ada tidaknya indikasi infeksi saluran kencing. Alhamdulillah, hasil lab normal dan diagnosa kedua adalah KONSTIPASI. Sedikit bernafas lega karena tidak ada indikasi infeksi dalam tubuh Tita. Tapi meminumkan 5 jenis obat ke Tita? Wow, berarti bakal ada perang dunia ke-3 ini. Tita paling susah minum obat. Merayu dengan cara apapun ga akan pernah berhasil. Memaksa? Malah takutnya bikin dia trauma minum obat. Akhirnya minum obat pun pakai akal-akalan. Tapi setelah 3 hari, gejala perut kembung dan sembelitnya ga hilang, malah perutnya membesar dan keras. Haduuh,  bingung lagi. Akhirnya, obat yang seharusnya untuk 5 hari, aku stop saat itu juga. Baru 3 hari sih, tapi menurutku kalau rentang waktunya 5 hari sampai hari ke-3 tidak membaik tapi malah memburuk, berarti saatnya untuk berhenti minum obat. Mau balik ke DSA rasanya sudah males karena pasti bakal ganti obat lagi, dinasehati hal yang sama lagi, dan hasil yang belum tentu lebih baik dari sebelumnya (huih sudah su’udzon duluan).  Keputusanku, mencari info dengan cara lain.

Dan satu-satunya teman baik yang sedikiiit meringankan beban adalah internet (karena suami lebih panikan lagi kalau melihat anaknya sakit, jadi mamahnya yang harus gerilya :D). Sebanyak-banyaknya informasi aku coba dapatkan. Banyak sudah artikel yang menjelaskan mengenai konstipasi. Hasilnya … solusi ga ada,  rasa khawair terus menggunung.

Tapi yang namanya ikhtiar pasti ada hasilnya. Tiba-tiba aku stuck pada satu ulasan yang disampaikan oleh seorang dokter yang dengan ramahnya membalas setiap komen yang ada di akun FB-nya. Dokter Olieve Indri Leksmana. Aku baca ulasannya yang singkat tapi sangat berisi. Dan solusi yang ditawarkan benar-benar belum pernah aku coba sebelumnya.

Sedikit saja aku kutip dari akun FB nya.

“Konstipasi adalah kesulitan/keterlambatan BAB, yang menetap sudah > 2 minggu & telah menimbulkan ketidaknyamanan bagi yang mengalaminya. Jadi kalau baru satu atau dua kali, belum masuk kriteria medis tersebut.  Sedangkan menurut standar kepraktisan klinis, dikatakan konstipasi apabila terdapat BAB yang tidak teratur, BAB dengan nyeri atau keduanya. Dikatakan konstipasi akut bila keluhan timbul selama 1-4 minggu. Sedangkan konstipasi kronis, keluhannya berlangsung lama, lebih dari sebulan. Konstipasi akut terapi cuma perlu beberapa hari saja, tetapi konstipasi kronis dapat berbulan-bulan.

 Ada 3 hal penting yang harus diperhatikan, yaitu frekuensi BAB, konsistensi atau bentuk tinja, dan keadaan klinis. Gejalanya, BAB kurang dari 3 kali seminggu, rasa nyeri saat BAB, rektum terisi penuh oleh tinja yang keras, atau teraba massa tinja pada dinding perut. Jika ditemukan minimal satu gejala tersebut, maka bisa dikatakan si anak mengalami konstipasi. Gejala lain yang juga sering dijadikan patokan adalah BAB dengan tinja yang sangat besar setiap 7 hari sekali dan enkopresis (kecepirit), yaitu keadaan dimana pengeluaran tinja sedikit-sedikit berbentuk cair akibat konstipasi yang telah berlangsung lama.”

Dan memang inilah yang dialami Tita selama 3 minggu belakangan, gejala-gejala seperti diatas yang sering dia keluhkan. Kondisi ini sudah datang dan pergi semenjak Tita mulai bayi. Dan paling parah adalah 3 minggu kemarin dimana dia sudah sampai pada demam dan rasa sakit yang mengganggu di perutnya.

Yang lebih amazing lagi adalah solusinya. Selama pergi ke DSA, aku tidak pernah disarankan atau diresepkan pengobatan dengan menggunakan cara ini.  Yaitu menggunakan Sirup Laktulosa atau air gula pekat. Di akunnya, Dr. Olieve menyarankan untuk mengkonsumsi Sirup Laktulosa secara teratur sampai kondisi feses stabil atau dengan menggunakan air larutan gula pekat buatan sendiri. Aku memilih untuk memberikan sirup laktulosa yang dibeli di apotek, dengan pertimbangan bahwa ketidaktahuan ukuran pasti seberapa banyak perbandingan air : gula pada satu kali penyajian kepada anak, seberapa banyak air gula pekat yang harus diberikan sekali minum, dan sayang dengan gigi Tita kalau kebanyakan minum air gula karena Tita paling suka berkumur dengan air minumnya (weird ha? that’s my Tita hahaha). Selain itu, cara ini relatif aman karena kandungan syrup lactulosa ini hanya laktulosa saja, dibanding obat-obatan kimia lainnya.

Langsung berangkatlah aku ke apotek, dan  ini sirup laktulosa yang aku dapat

dulcolactol

Aku ikuti aturan yang tertulis di brosurnya dengan dosis anak 1-5 th  2x5ml. Disamping itu jelas pola makan yang sehat, sayuran hijau dan buah tetap aku berikan karena sifatnya penting dan harus. Aku banyak memberikan buah pepaya juga buah naga pada Tita, namun untuk menghindari kebosanan (secara Tita anak yang gampang bosan sama makanan),  aku selingi dengan buah-buahan lain terutama yang mengandung banyak air seperti semangka dan jeruk.

Well, hasilnya … dua hari setelah mengkonsumsi Syrup Laktulosa dan pola makan sehat, perut Tita berangsur membaik. BAB ga kesakitan, perutnya mulai melunak, dan kembung berkurang banyak sekali (buang angin mulu Titanya hehehe). Yang penting juga, kualitas tidur Tita dan mamahnya jadi membaik karena ga kebangun tengah malam.

Dan yang juga ga kalah pentingnya adalah selalu menjaga kebersihan, jaga asupan cairan dengan banyak minum air putih, perbanyak serat, dan selama konstipasi hindari buah apel dan pisang karena bisa memperburuk kondisi. Sempat merasa bersalah karena ngasih pisang & apel saking pengen masukin buah apa aja ke perutnya Tita,  baru keinget kalau apel masuk dalam diet braty untuk diare. So sorry Tita … feeling so much guilty  hikz.

Tapi btw, sekali lagi terima kasih atas pencerahan FB-nya dr. Olieve …. Sangat bermanfaat, karena bisa melepaskan kecemasan pada ibu-ibu yang gampang panik kalau tahu anaknya sakit sepertiku 🙂

Dan semoga hasil sharing ini juga membawa manfaat untuk ibu-ibu yang memiliki masalah sama. Kesabaran adalah kuncinya buibu 🙂

Kiss kiss from Tita and Mamah mmuuaacchh :-*

Advertisements

TITA NOW

Ah, lama ga posting di blog tercintaku ini. Balakangan aku disibukkan dengan kegiatan baru dan menyenangkan bersama Tita. Yess … Tita sudah memasuki usia preschool. Seneng banget lihat perkembangannya yang membanggakanku. Secara kemampuan berbahasanya lebih komplek meskipun pengucapannya masih belum sempurna, kemampuan psikomotornya yang menggemaskan dengan perilaku-perilaku dan ke-aktifan dia, apalagi kemampuan afeksinya yang ehem hampir setara dengan anak usia diatasnya, empatinya besar sekali kepada orang lain. Ih, mama suka mama suka hehehe

Inilah “Halaman” barunya Tita. Semua kegiatan bermain one-on-one bersamaku, aku rekam disini. See the pages ya … masih baru dan belum banyak postingan. Sedikit demi sedikit bakal aku penuhi dengan koleksi bermain-nya.

Lha terus masak memasaknya Tita gimana? Hehehe teteeep itu jadi kegiatan pokokku. Menyiapkan makanan sehat selalu adalah kewajiban seorang ibu. Apalagi Tita sudah beraktifitas dan punya kegiatan seperti itu. Menu dan nutrisi yang dibutuhkan pasti jauh lebih besar. Bahkan baru saja ketemu DSA nya Tita, dan beliau berkata “Usia anak ibu 2,5th ya, berarti berat seharusnya 13kg. Anak ibu berapa ini ya (sambil lihat data Tita) … 14kg? Wah bagus banget itu bu, dikasih apa anaknya?” Lah sempet bingung sendiri jawabnya, dengan polosnya aku jawab “Ya dikasih makan dok”. DSA nya Tita pun ketawa, “Iya jelas bu dikasih makan. Maksud saya apa dikasih makanan tambahan seperti susu pengganti makanan atau makanan buatan pabrikan?” dan dengan bangganya aku jawab “Nggak dok, hanya masakan asli ibunya, dengan mencoba belajar memenuhi semua nurisinya.” Dan jawaban DSA nya Tita bikin besar kepala banget “Wah bagus banget itu bu, pertahankan seperti itu yah, berarti ibu pinter menyediakan makanan dengan asupan gizi yang memenuhi syarat. Anaknya saya lihat juga aktif sekali. Jarang saya temui ibu-ibu yang seperti ini. Kebanyakan ibu-ibu yang anaknya punya perkembangan fisik yang bagus pas saya tanya pasti karena hasil pabrikan.” Uhuk uhuk langsung deh batuk-batuk & keluar dari ruangan dokter dengan wajah cerah ceria. Alhamdulillah …

Eh, balik ke topik (kok jadi membanggakan diri gini hehehe). Aktifitas masak jelas tetep, tapi makanannya Tita sekarang sudah punya rumah sendiri. Mau main? Ditunggu ya, alamatnya disini, jangan sampai kesasar hehehe.

front page MLLT

Ni penampakan depannya. Tinggal ketuk-ketuk dan voilla … resep-resepnya sudah nampang. Masih sedikit juga … but soon, pasti jadi banyak.

Segitu dulu deh cerita Tita sekarang. See you there muuaacchh :-*

PAPAYA – MAMANYA

Suatu hari, “Papayaaa” (ga pake n)

Lain hari, “Mamanyaaa” (pake n)

Aiihh … apalagi ini Tita??

Panggilan-panggilan itu muncul sebulan yang lalu, ketika tiba-tiba Tita berteriak memanggil ayahnya dengan “papaya” & memanggilku dengan “mamanya”. Lah, padahal panggilan Papa-Mama (ga pake ya & nya) sudah menghilang semenjak Tita usia 11 bulan  (“ATAH & NDA”). Haishh … piye to iki?

Ceritanya dari Tita lahir aku & suami sepakat untuk memberikan panggilan kepada kami berdua dengan sebutan Papa-Mama (bahkan sempat juga mommy untukku), soalnya saudara-saudara kami banyak yang menyebut dirinya dengan Ayah-Bunda atau Ayah-Ibu. Nah, supaya ga terlalu sama, kami membiasakan panggilan Papa-Mama kepada Tita supaya lebih bervariasi :D. Tapi ga tahu kenapa & dari mana, ketika Tita usia 10m, dia memanggilku dengan sebutan Nda dan memanggil suamiku dengan sebutan Atah. Mungkin dari TV atau mungkin dari saudara-saudara kami, kami berdua ga pernah ngerti. Yang pasti panggilan itu terdengar spontan di telinga kami berdua dan seolah-olah Tita sudah paham betul kepada siapa panggilan itu ditujukan. Bahkan Akung & Ati pun heran, darimana sebutan itu berasal. Tapi yah itulah Tita, terkadang suka asal hihihi.

Atah & Nda. Oke lah kalo begitu. Kesepakatan pun berubah. Mulai saat itu, kami membiasakan diri dengan sebutan Ayah-Bunda.

Tapi oh tapi, kenapa panggilan papa-mama balik lagi Tita?? Sudah bosankah manggil Ayah & Nda?? *haduh geleng-geleng ga ngerti. Kami yang biasa bilang “Adek, sini peluk ayah …” atau “Adek, bunda cium donk …” jadi bingung mau di-bahasa-kan apa lagi :D. Mungkin kali ini dia mencoba eksplorasi nama orang tuanya dengan mencoba semua bahasa yang berdefinisi sama, yaitu Ayah & Ibu. Ga pa pa sih, cuma bingung aja mau nyebut yang mana. Tapi sekarang muncul satu lagi pertanyaan baru, kenapa ada tambahan “ya” untuk sebutan papa dan tambahan “nya” untuk sebutan mama? Hahaha Emak Bapaknya diajak mikir lagi. Bingung lagi …

Setelah beberapa waktu membiasakan diri dengan kebiasaan Tita menyebut kami dengan panggilan papa-mama ala Tita pake ya & nya, secara tidak sengaja akhirnya kami pun menemukan jawaban.

Tita paling suka belajar nama-nama buah. Alhamdulillah, setiap diminta menunjukkan gambar buah yang dimaksud, Tita langsung tahu. Mulai nama buah yang lazim banyak ditemui di pasaran dan dia temui piringnya, semisal nanas, pisang, apel dsb sampai buah yang belum pernah ditemui a.k.a hanya tahu dari gambar seperti buah peach, apricot, blackberry dsb, dia langsung tanggap. Dan buah pertama yang namanya bisa dia sebutkan dengan jelas hanya dengan melihat gambar adalah pepaya.

Nah, disinilah kuncinya. Suatu hari ketika Tita sedang memegang gambar buah-buahan dan mendapati gambar pepaya, dengan senang dan lantangnya dia berteriak, ”Mamanyaaa … Papaya” sambil tertawa ngakak. Dia tertawa sambil menunjuk gambar buah itu lalu langsung menunjuk ke arah ayahnya :D. O o o aku langsung ngeh … ternyata panggilan Papaya itu muncul kembali karena mirip dengan nama buah favorit Tita. Mungkin kata kunci inilah yang kemudian mengembalikan ingatannya akan panggilan papa-mama (kok berasa bilang anakku amnesia ya ). Kata “Pepaya” lah yang membuat memori Tita me-review kembali panggilan papa-mama yang pernah kami berikan padanya sebelum usia 10 bulan. Karena berdasar penelitian yang aku baca tapi lupa sumbernya (tar dicari deh :D), anak berusia 0-5 th adalah copycat paling bagus dari lingkunganya & memiliki kemampuan merekam yang luar biasa. Bahkan bila dilatih secara maksimal dalam satu waktu, anak 0-5th mampu menguasai 5 bahasa yang berbeda sekaligus. Wah pantesan …

Ya sebagai orang tua sih, ga ada masalah mau dipanggil apa aja oleh Tita, toh semua panggilan itu bagus dan memiliki arti sama. Apalah arti sebuah nama, bunga mawar apapun namanya tetap akan harum. Hanya saja jadi terdengar aneh ketika sudah terbiasa dengan satu panggilan harus berubah lagi.

Ah, apapun itu .. kami tetap sayang padamu our Tita :-*

INI BAYANGANKU ITU BAYANGANMU

Seminggu belakangan ini Tita punya kebiasaan baru. Aku perhatikan, sering kali ketika malam hari tiba, senengnya  menghadap dinding dan ngomong sendiri, sambil terkadang menoleh ke arahku dan mencoba menjelaskan sesuatu. Sedangkan kalau siang hari sering kali jongkok menghadap tanah, nunjuk-nunjuk tanah, dan bahkan teriak-teriak ga jelas. Sepertinya ada hal yang sangat menarik hatinya, sampai- sampai ketika mulai memperhatikan tanah dan merasa ada yang menarik, dibawanya kursi kecil lalu duduk mempehatikan tanah sambil nenteng cemilan di tangannya. Berasa ngeliat orang nonton di XXI -_-‘

Bingung awalnya, kenapa ya perilaku anakku seperti itu?  Sampai-sampai emaknya mikir, apa anakku punya teman khayalan?? *hahaha kalau ini emaknya yang ngayal. Akhirnya, jalan satu-satunya supaya tahu anakku kenapa, akupun mengikuti kebiasaan dia. Ikut ambil kursi kecil sambil memperhatikan tanah, dan ikut menghadap dinding ketika malam tiba.

Oh ternyata … (ini oh ternyata yang edisi hari sabtu, soalnya senin-jum’at sudah ada). Tita memperhatikan bayangan. Setiap bayangan yang ada di tanah dan juga di dinding, dia perhatikan dengan seksama. Dengan gayanya yang menunjuk tanah sambil ndremimil kata orang jawa, dia meminta penjelasan dengan bertanya “apa ni?”. Ohoho anakku sedang melakukan penelitian ternyata. Dan dengan sok ilmiahnya aku pun menjelaskan “Oooo ini namanya bayangan nak. Sinar matahari /lampu kalau terhalang sesuatu, akan membentuk bayangan sesuai dengan bendanya.” Sambil aku peragakan menggunakan benda-benda di sekitar.

Weh, ngerti ga ngerti, pokoknya itulah penjelasan Bunda nak. Eh lha tapi ternyata, dengan gayanya yang ga kalah ilmiah, dia seperti mengulang penjelasanku dan menggarisbawahi omonganku dengan bahasa planetnya yang blukutuk seperti ikan berenang dan tangannya sebagai penguat penjelasan. Ya ya ya bagus bagus … ganti bunda yang ga ngerti nak.

Nah, mulai saat itu Tita sering memperagakan rasa keingintahuannya tentang bayangan. Mulai dari mainan, tangannya sendiri, alat makan, bantal guling sampai baju-baju dalam lemari dia ambil jadi alat peraga. Kalau bayangan sudah terbentuk, dia bakal tertawa dengan senangnya, seolah-olah puas sudah bisa menciptakan bentuk-bentuk bayangan baru. Tapi … jangan sampai ada bayangan yang menimpa badannya, kalau ada bayangan yang menempel di badannya sekecil apapun, yang ada dia bakal histeris, marah-marah sambil mengibaskan tangannya. Aneh … :D.

Tapi yah itulah anak-anak kalau sedang eksplorasi sesuatu, hal aneh bisa saja terjadi. Tapi justru hal-hal aneh itulah yang membuat dunia anak penuh warna dan menarik.

Ayoh Tita teruslah ber-eksplorasi, dan bunda akan merekam semua rasa-ingin-tahu-mu di memory bunda untuk bekal cerita di masa depanmu nanti 🙂

shadow1

shadow2

shadow3shadow4

BROKEN HEART CHILD

Namanya Dilla, gadis kecil kurus yang bulan November 2013 kemarin genap berusia 5 th. Putri pertama adik laki-laki saya a.k.a keponakan, yang mengalami disabilitas dalam mendengar atau yang lebih dikenal dengan tunarungu. Dia adalah gadis kecil yang lincah, ceria & cerdas dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Terkenal supel dan ramah baik di lingkungan rumah maupun di sekolah. Hal ini yang membuat kami semua merasa bersyukur, meskipun tidak “sesempurna” anak-anak lain namun dia memiliki sifat sikap dan karakter yang menonjol.

Berawal dari konflik berkepanjangan yang dialami kedua orang tuanya, Dilla & adiknya pun harus menelan pil pahit dan harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya berpisah. Kesepakatan pun diambil. Anak-anak dibagi dua. Dilla ikut papahnya & adik Dilla ikut mamahnya, karena usia adiknya masih 7 bulan pada saat itu. Terus terang keputusan ini membuat saya pribadi miris, karena menurut saya kenapa anak musti dibagi-bagi? anak bukanlah harta gono gini yang sering kali diributkan dan dibagi. Anak punya jiwa. Orang tua bisa berpisah, tapi kakak-adik? Apa mereka juga harus ikut menanggung akibat dari “pembagian” sepihak ini?. Mengingat keduanya masih balita dan Dilla sangat sayang kepada adiknya, sampai-sampai sering kali minta tidur bersama dalam satu box bersama adiknya meskipun tidak diijinkan oleh orang tuanya. Tidak seharusnya kakak dan adik ini dipisahkan. Ini tidak adil untuk mereka. Tapi siapalah saya ngomong seperti itu? Saya orang di luar rumah tangga mereka.

Dan saya pun telan sendiri perasaan itu karena tidak ada niat untuk ikut campur dalam urusan keluarga adik saya.

Sejak saat itu kondisi berubah drastis, sering kali kami mendapati Dilla menangis dalam diam, tanpa suara sesenggukan sedikitpun, namun air matanya terus meleleh. Sering kali dia memandangi foto-foto ketika masih bersama kedua orang tua dan adiknya, rekaman-rekaman video yang mengabadikan kebahagiaan mereka dalam satu keluarga, dan sekali lagi air matanya pun meleleh dalam diam. Bahkan dalam tidurnya pun sering kali dia menangis. Keadaan ini yang membuat kami, terutama mama saya sebagai neneknya teramat nelangsa. Mengapa dalam kesunyian hidupnya, dia masih harus beradu dengan perasaan sakit yang teramat dalam.

Puncak kesedihan Dilla pun terjadi. Siang itu sepulang dari sekolah dia menangis sesenggukan. Saya pun bertanya kepada mamah kenapa Dilla menangis, karena di sekolah Dilla termasuk anak yang kuat dan tidak pernah menangis meskipun menemui kesulitan. Mamah menjawab, Dilla menangis karena mencari mamanya, yang sudah tidak didapatinya ketika sekolah usai. Saya pun menghela nafas. Wajar, karena selama dua bulan ini Dilla tidak pernah bertemu dengan mamanya sama sekali, dan baru bertemu sehari kemarin. Dengan ceria berangkat sekolah diantar mamanya, tapi ternyata ketika pulang sekolah, tugas itu sudah diambil alih kembali oleh neneknya. Dilla pun terus menangis, sambil merajuk kepada Atinya (panggilan cucu-cucu mama kepada mama saya) supaya diantar ke mamahnya kembali. Tapi Ati Cuma bisa berkata “Tunggu papa Dilla pulang kerja dulu ya nak, nanti kesana sama papa Dilla.” Dan kekecewaan itu jelas terbaca di wajahnya. Tangisannya pun tak mau berhenti. Yang biasanya ketika pulang sekolah dan mendapati Tita sepupunya (putri saya) langsung ceria dan bermain bersama, kali ini  sama sekali tidak mau didekati. Bahkan malah marah-marah dengan gaya bahasanya sendiri. Saya pun menyarankan mama untuk telpon ke adik saya, papahnya Dilla yang sedang bekerja saing itu, minta ijin supaya bisa mengantarkan Dilla ke mamahnya, karena terlihat jelas rasa kangen teramat yang dia rasakan kepada mamahnya sudah tidak dapat dibendung lagi. Tapi ternyata ijin itu tidak didapat. Mama pun merayu Dilla untuk bermain game computer kegemarannya supaya bisa sedikit melupakan keinginannya. Dan rayuan itupun mengena. Akhirnya Dilla pun asyik dengan permainannya. Tapi tetap, tatapan matanya kosong.

Sambil ditemani Akung yang mulai tertidur di kursi, Dilla pun terus asyik bermain dengan komputernya. Saya pun masuk kamar untuk menidurkan si kecil yang mulai rewel. Pun mama juga meng-istirahatkan tubuh dan pikirannya, karena penyakit hipertensi yang dideritanya selama ini takut kambuh lagi karena kelelahan fisik dan psikis. Saya pun ikut tertidur seiring tidurnya Tita. Namun tiba2 badan saya diguncang-guncangkan dengan keras, dan mendengar kepanikan mama bahwa Dilla sudah tidak ada di rumah. Saya pun kaget dan langsung bangun dari tempat tidur meninggalkan Tita yang masih terlelap dengan pulasnya. Kami mencari ke seluruh penjuru rumah, dan hasilnya nol. Ayahpun berinisiatif mencari Dilla menggunakan sepeda motor, dengan asumsi paling gila bahwa Dilla sepertinya nekat menyusul ke tempat mamahnya. Meskipun hampir tidak mungkin untuk anak seusia Dilla yang pergi sendiri tanpa membawa apa-apa dan hanya menggunakan kaos kutang dan celana dalam, tapi untuk saat ini kami mengambil kemungkinan itu karena Dilla memang hafal jalan menuju tempat mamanya. Tapi dengan jalan kaki sendiri, akan sangat mustahil untuk Dilla bisa sampai ke tujuan, mengingat jarak antara rumah mamah saya dan tempat mama Dilla terhitung lumayan jauh. Sambil berharap dan berdoa semoga Dilla ditemukan dalam keadaan baik-baik saja, saya pun tidak tinggal diam. Setiap orang yang saya temui sambil menyusuri jalan, saya tanyakan kalau-kalau bertemu dengan Dilla. Ternyata tetap nol. Tapi tiba-tiba Alhamdulillah Allah maha melindungi, seorang tetangga yang baru saja sampai di depan pagar rumahnya mengendarai sepeda motor mengatakan bahwa dia bertemu dengan Dilla naik sepeda motor bersama Ayah saya. Ya Allah … sayapun bergegas pulang. Tepat bersamaan dengan ayah saya sampai di rumah … bersama Dilla. Begitu turun dari sepeda motor, mama menyambut dengan tangisan sambil menggendong memeluk Dilla erat (mama sangat dekat dengan Dilla), ayah pun terlihat meneteskan air mata begitu juga saya. Ya Allah … Alhamdulillah, terima kasih Engkau telah mengembalikan DIlla kepada kami lagi dalam keadaan baik-baik saja sama seperti ketika dia meninggalkan rumah.

Dengan meringkuk di pangkuan mama dan bersembunyi di ketiaknya sambil terus meneteskan air mata, seolah-olah ingin mengatakan bahwa dia merasa sangat bersalah kepada kami semua karena telah meninggalkan rumah,  Ayahpun bercerita bagaimana beliau bisa menemukan Dilla. Setelah berputar-putar di sekitar tempat tinggal kami, Ayah mencoba menyusuri jalan raya, berharap semoga Dilla memang melalui jalur itu untuk menuju ke tempat mamahnya. Setiap anak kecil yang memakai kaus kutang dan celana dalam diperhatikannya sungguh-sungguh. Sampai-sampai selokan besar di pinggir-pinggir jalan pun dilihat oleh ayah, takut kalau-kalau Dilla terperosok di dalamnya. Ketika sampai di jalan raya yang ramai dengan kendaraan-kendaraan besar seperti truk dan bis, ayah melihat seorang gadis kecil yang sangat mirip dengan Dilla berjalan berlawanan arah dengan Ayah. Ayahpun langsung menghampirinya yang ternyata memang Dilla. Berjalan sendiri dengan wajah yang terlihat lelah tapi sama sekali tidak menangis, seolah-olah tekadnya sudah bulat untuk menyusul mamanya. Tapi saat itu arah Dilla berjalan berlawanan dengan arah menuju tempat mamanya. Mungkin Dilla merasa lelah untuk melanjutkan perjalanan atau mungkin merasa bingung berada di jalan raya berjalan sendirian, dan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke rumah mama. Entahlah… hanya Dilla sendiri yang tahu kenapa. Ayah pun mengajak Dilla naik ke sepeda motor, dan Dilla menurut tanpa pemberontakan. Yang pasti kami semua merasa bersyukur Dilla sudah kembali ke tengah-tengah kami lagi., Kami sangat bersyukur Allah masih bermurah hati melindungi Dilla ketika jauh dari rumah, karena segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi. Kami bersyukur tidak ada orang jahat yang memanfaatkan situasi melihat anak kecil berjalan sendiri di jalan raya. Kami bersyukur selokan besar tidak membuat mata Dilla lengah, kami bersyukur trotoar berlubang tidak membuat Dilla terperosok. Kami bersyukur tubuh kecil itu tidak menyeberangi jalan diantara kendaraan-kendaraan besar yang melaju kencang. Dan kami bersyukur atas semuanya.

Ini teguran keras untuk kami semua, terutama orang tua Dilla dan juga para orang tua yang lain, termasuk saya. Betapa anak memiliki kekuatan luar biasa yang terkadang diremehkan oleh kita orang dewasa yang menganggap mereka lemah. Entah keberanian dari mana anak sekecil itu berjalan mengikuti hatinya yang sudah tidak dapat membendung keinginan untuk bertemu orang yang juga sangat dia sayangi, yaitu ibunya. Padahal kasih sayang dari kami keluarganya terutama papanya tidak pernah kurang. Dari mana tekad kuatnya itu datang untuk memenuhi hasratnya bertemu dengan orang yang sudah melahirkan dan juga memberinya kasih sayang, hingga timbul dorongan untuk menyusulnya. Sampai saat ini saya masih benar-benar tidak mengeti. Mungkin memang inilah jeritan hati seorang anak yang mengalami patah hati.

Oh Dilla … kamu adalah guru kami saat ini. Kamu mengajarkan kepada kami ketulusan dan keberanian yang luar biasa. Tekad kuat dan kemurnian hati tiada tara yang belum tentu kami miliki. Terima kasih … pelajaranmu teramat sangat berharga. Tapi,  jangan bikin kami khawatir lagi ya nak … :’-)

Ketika menulis ini saya pandangi Tita yang sedang tidur. “Kalau kamu bangun nanti nak, bunda janji akan terus menjaga perasaanmu, menyayangimu, memeluk dan menciummu sampai kamu merasakan kebahagiaan yang teramat sebagai anak Ayah & Bunda. Bunda akan selalu melindungimu sampai nafas bunda tak lagi bersatu dengan raga ini. Luv u much my angel … “

Tulisan ini sudah dibaca adik saya dan diijinkan untuk dipublikasikan

Bento 911

Menyiapkan menu sehari-hari untuk suami & anak adalah kesenangan tersendiri untukku. Meskipun perlu menyisihkan segelintir waktu & ekstra ketelatenan, karena dua hal itu adalah kebutuhan yang sangat berharga sebagai ibu rumah tangga yang all-in-one sepertiku, tapi dengan niat dan cinta untuk orang-orang terkasih, setiap hidangan adalah hadiah ter-istimewaku untuk mereka. Ya walaupun tak seindah menu-menu di restoran berbintang, ataupun se-enak masakan chef-chef ternama, tapi hanya dengan melihat mereka makan dengan lahap dan berselera saja sudah cukup membuatku tahu kalau mereka menyukainya … and that’s more than enough for me :).

Masih ingat sekali, satu hari, aku mendapati Tita putri kecilku yang biasanya lahap makan, tiba-tiba terlihat ogah-ogahan melihat masakan yang aku berikan padanya. Padahal biasanya… justru dia paling ga sabar menunggu jam makan tiba. Bahkan sering kali ketika aku sedang memasak & belum selesai, dia sudah menyodorkan mangkuk makan, lengkap dengan sendok dan gelas kesayangannya. Bingunglah bundanya. Ada apa dengan Titaku ini? Apa dia sakit? Nggak ah, dia lagi sehat kok. Atau apa lagi tumbuh gigi? Nggak juga, baru saja giginya tumbuh & sekarang sedang baik-baik saja. Tunggu dulu, apa dia mulai bosan dengan masakan bundanya? Aduuuh jangan sampai deh putriku bosan sama masakan bundanya. Dan akupun mulai panik. Bukan panik yang berlebihan tapi cukup membuat bertanya tanya, kenapa?

Mencari jawaban atas kegalauan bundanya Tita ternyata ga mudah :D, surveypun dilakukan. Mulai bikin menu yang komplit & uenak menurutku, seperti nasi, sayur, lauk dengan bumbu lengkap, ditolak. Menu-menu one dish meal, ditolak. Dari yang kering-keringan sampai berkuah, ditolak. Mulai deh nyut nyutan, kepikiran kalau ga mau makan, bagaimana nutrisinya nanti?

Diantara kegalauanku, tiba-tiba datang lah sang inspirasi. Aha!! gimana kalau bikin bento buat Tita? Good idea. Tapi … bento yang bagaimana ?? Nah lho bingung lagi :D.

Ah, Inget deh kalau pernah bookmark bento sederhana punya dbento.com. Aku pun mulai belajar sedikit-sedikit. Mulai dari menentukan menu sampai ke persiapan pembuatannya. Dan aku putuskan menu pertamaku untuk percobaan membuat bento adalah Nasi Tim Teri Warna Warni. Pengalaman pertama yang riweh, karena ga punya peralatan bento sama sekali. Akhirnya terpikirlah untuk bongkar bongkar koleksi cetakan kue kering milikku. Dan ketemu motif bunga daisy yang cantik. Semangat nyetak nasi yang masih panas di piring makan putriku, berakhir dengan rasa kecewa karena kurang memuaskan hasilnya, terlalu tipis dan jadinya kurang menarik. Bongkar & bongkar lagi. Akhirnya diakal deh supaya hasilnya bisa tebal. Tumpuk 2 cetakan jadi satu, dan berhasil hehehe. Sambil komat kamit supaya menu diterima, aku persembahkan bento sederhana pertamaku ke bidadari kecilku.

Tim Teri Warna Warni

Menu bento pertamaku ini aku juluki Bento 911, karena muncul disaat genting, dan ternyata bisa menolong putriku untuk nafsu makan lagi. Awalnya dia heran melihat isi piring yang berbeda dari biasanya, dan kalau ingat waktu itu, ekspresinya menggemaskan sekali. Dengan tertawa lucu dia menyambut girang piring makanannya dengan bersemangat. Aiih … Senang rasanya. Ternyata perjuanganku setelah satu minggu berbuah manis. Dan dengan lahapnya bentoku dimakan sampai habis. Horayy 🙂

adek mam nasi warna warni

Akhirnya semangat pun timbul. Ternyata menu apa saja kalau disajikannya beda dan  secara menarik, akan menambah selera makan siapapun. Dan ternyata membuat bento tidak serumit yang aku pikirkan. Mulai bentuk yang paling sederhana pun, bisa menjadi menu bento yang menggugah selera. Mulai deh membaca semua hal tentang bento, dan sering berkunjung ke dbento.com. Dan seperti inilah hasilnya yang sempat ter-foto …

bento tita 1

bento tita

Masih sangat sederhana, tapi aku akan tetap belajar. Targetku pengen bisa buat  kyaraben karakter yang lucu-lucu. Membayangkan betapa senangnya putriku nanti kalau mendapati makanannya disajikan dalam bentuk yang lucu & menarik, membuatku tambah semangat. Bahkan sang Ayah pun sudah request pengen juga dibuatkan. Wah tambah excited rasanya. Doakan yaa … semoga bisa terwujud 🙂

Nyelip : Tulisan ini diikusertakan Kontes Aku & Bento … N menang juara III yippeee alhamdulillah 🙂

AGAIIINN … ALHAMDULILLAH

Huhuhuhuhui … Tita jadi inspirasi emaknya lagi :). Setelah melewati tantangan untuk menjawab Tantangan Mama Koki Handal Bulan Juli 2013 *haish .. akhirnya jawabannya adalaaahhh Mama Paling Kece II berhasil disabet *efek nulis sambil nonton Last Samurai lagi sabet sabetan pedang*

Alhamdulillah …. hihihihi seneng

Jadi keinget waktu pertama baca ada Tantangan MKH Juli 2013 dengan tema Mie, langsung rasanya pengen lari ke dapur & masak … sampe lupa klo ga punya persiapan mie yang diminta sebagai syaratnya  *dudulnya kumat & lagi waktu itu pas lagi sibuk sibuknya nyiapin Lebaran tiba dengan tumpukan pe-er kue kering request sana sini. Akhirnya nyempetin deh mampir ke mini market terdekat *untung deket banget sama rumah … akhirnya sedikit lega si mie sudah kepegang hehehe. Ga tau ide dari mana, tiba tiba pas lihat ada persediaan coklat blok di lemari, kepikiran untuk bikin cemilan yang okeh marokeh buat Tita. Secara si Tita doyan banget sama yang namanya coklat *siapa yang enggak coba. Cuma bingung ni coklat sama mie nya mo diapain yaaa *krik krik krik. Diem sebentar trus tau tau tiingg si ide lewat. Tapiiii pas si ide lewat, buat eksekusi resepnya selalu adaaaaa ajaaa yang bikin ga bisa. Yang Tita rewel lah, yang panggangan kue nya manggil manggil lah, yang reminder hape dari requester kue krang kring terus lah *eh bunyi hape sudah gak kring lagi ya macem macem pokoknya. Nah nah nah … persis seperti tantangan MKH sebelumnya, akhirnya si resep baru berhasil dieksekusi di detik detik terakhir tantangannya deadline tanggal 7 Agustus. Kirimnya jam 22.00 lagi *ckckckck geleng geleng. Ya mau gimana lagi, pas barengan sibuk sibuknya persiapan lebaran je. Tapi alhamdulillah … hasil dari ngos ngosan ga percuma hehehehe. Meskipun bukan juara I tapiiii MAMA PALING KECE II weizzzz keyen dah hahahaha.

Eits lupa poto makanan paling kecenya … this is it! Chocolate Noodle Nest With Salad for 18mo Baby. Kece kaaann *masih dengan princess syahrini disini

Chocolate Noodle Nest with Fruit Salad

Plus poto paling kece kita berdue de *huuiiiihhh gayaaaa 😀

Cheeseeeeeee2

Mau bukti?? 😀 Yuk mampir ke mamakukokihandal.com ada kreasi emak emak lain yang lebih okeh & keyeeennn. Tapi hadiahnya belum ke-upload *dasar ga sabaran nulisnya kecepetan ga mau nunggu sekalian hadiahnya. Nyusul deh biar tambah seru hehehehe

Tapi yang pasti berkah lagi, alhamdulillah lagi 🙂

Luv to My Tita & milis mpasirumahan :*

SELF MOTIVATED Part 1

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”

Penggalan ayat surat Al-Baqarah 286 di atas, meskipun hanya sebaris, tapi sering kali jadi kekuatan psikologis untukku menghadapi apapun yang memberatkan jiwa & raga. Segala ke-tidaksanggupan yang menyesakkan dada, disertai air mata dalam diam, seketika luruh dan berubah menjadi semangat tersendiri untuk menghadirkan pelangi setelah badai. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini, walaupun harus dilalui dengan segala kesulitan.

Yepp!! Hidup memang ga mudah, karena semua harus dilalui lewat perjuangan. Tapi yang tetap harus diingat bahwa ga ada perjuangan yang sia sia karena Allah tidak pernah tidur, hanya sabar & tawakal yang bisa membantu kita meringankan segala beban. Aahh jadi inget satu masa ketika duduk di ruang kelas kuliah psikologi. Bahwa setiap manusia punya defense mechanisme yang tidak disadari & secara otomatis akan muncul ketika ada ancaman dari luar. Bahkan secara ilmiah pun kemampuan untuk bertahan & berjuang itu ada pada setiap manusia. Hanya saja bagaimana cara kita mengolah sistem pertahanan kita menjadi perilaku yang positif, itu yang penting.

Dalam ke-tidakberdaya-an & kelumpuhan, kata “semangat” adalah harta karun berharga yang paling dicari siapapun. Betapa sulitnya mencari semangat untuk bisa bangkit & terus berlari ketika terpuruk. Coba seandainya ada toko yang menjualnya, dijamin pasti laku.

Kadang terpikir ga bisa bayangin kalau seandainya aku seperti mario teguh yang bisa mengucapkan kalimat kalimat berefek menginjeksi motivasi orang lain, apa aku juga bisa kuat menginjeksi diriku sendiri?

Kalau aku seperti Oprah Winfrey, yang dijadikan inspirator bagi jutaan orang, apa aku juga bisa kuat mempertahankan halo effect yang menempel di aku?

Kalau aku si Obama yang jadi Presidaen USA orang kulit hitam pertama, apa aku juga bisa membendung kritikan bertubi-tubi

Ternyata memang Allah sudah menempatkan setiap orang pada posisinya masing … tinggal bagaimana kita pandai bersyukur & mensyukuri segala yang kita punya. Berat memang, tapi tetap yakin bisa menjalani. Karena … Allah tidak membebani suatu keadaan di luar kemampuan kita.

Mulai semua dengan Bismillah 🙂

Kemanakah Kolam Susu Itu?

Lake (pict. from google image)

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman
(Kolam Susu ; courtesy by Koes Plus)

Aah, miris sekali rasanya kalau membaca sepenggal syair lagu Koes Plus itu. Betapa indah & makmurnya lukisan negara kita. Seakan-akan memberikan gambaran tentang surga yang benar-benar ada di dunia. Tapi bagaimana dengan kenyataannya? Bisa kita lihat, betapa susah mencari ikan di laut karena bahan bakar kapal, yaitu solar sulit sekali didapat. Betapa susahnya ber-tani & bercocok tanam karena harga bibit dan pupuk yang melambung. Dan betapa susahnya mencari lapangan pekerjaan karena belum terpenuhinya SDM yang memadai sedangkan angka kelulusan mahasiswa semakin meningkat tiap tahunnya.

Kenapa tiba-tiba saya mencoba meneropong kondisi ini? Padahal saya termasuk orang yang “sebodo ah” dengan kondisi sosial kemasyarakatan di negara tercinta kita. Bukannya tidak peduli dengan sekitar, tapi lebih pada ‘sudah terbelenggu’ dengan kondisi & situasi yang serba sulit. Skeptis? Jelas tidak. Karena hari esok masih panjang & kita-kita ini sebagai penerus Kartini harus bisa mencetak SDM yang lebih dan lebih unggul lagi.

Eits, jadi panjang ngelanturnya, kembali kepertanyaan di atas, kenapa saya tiba-tiba mencoba mengkritisi keadaan di negara tercinta ini? Semua berawal dari perasaan kehilangan & kerinduan pada saudara-saudara yang lebih memilih merantau ke negara orang daripada menyumbangkan kompetensinya di negri sendiri. Kedengarannya berlebihan yah? Sebenarnya tidak berlebihan, karena hubungan saya & saudara-saudara termasuk dekat -saudara di sini adalah selain ayah,ibu & adik-adik kandung saya. Kami keluarga besar yang memiliki ikatan persaudaraan yang kuat, yang satu sama lain selalu berusaha ‘keep in touch’ hanya untuk menanyakan sedang apakah sekarang ?. Jadi, perasaan kehilangan itu benar-benar ada. Ditambah lagi dengan keinginan mereka untuk menetap di negara-negara tersebut. Aih, entah kapan lagi bisa bertemu & kontak fisik secara langsung, tidak hanya sekedar lewat YM & Skype.

Semua itu dimulai dari Om yang memilih mengais Euro di Belanda sebagai tenaga engineer di salah satu perusahaan ekspedisi, dilanjut dengan sepupu tertua -dari bude tertua pula- yang lebih memilih stay di Jerman sebagai tenaga farmasi. Kakak sepupu yang lebih suka menyusul bos nya yang pindah ke Taiwan sebagai tenaga IT di perusahaan mobil terkemuka, dan dua orang adik sepupu di Singapura yang mencoba peruntungan sebagai tenaga lepas. Dan sampai dengan tetangga-tetangga yang mencari mata uang selain rupiah sebagai TKW.

Mereka-mereka ini, sebenarnya sangat bermanfaat untuk kemajuan negeri, mereka juga bisa berjuang untuk negeri ini, tapi kenapa lebih memilih untuk bergabung dengan para ekspatriat yang menjanjikan gepokan uang yang lebih tebal? Jawabannya ternyata sama : “Bukan sekedar uang Dee (panggilan saya hehehe) tapi lebih pada penghargaan yang sepadan. Kami ini belajar untuk mendapat kehidupan yang lebih layak, dihargai sesuai dengan kemampuan kami, tapi ternyata?? Ga sesuai seperti yang diharapkan.” Wah jadi ingat kata-kata adik laki-laki saya “Hidup emang sulit man, seringkali impian ga sesuai dengan kenyataan. Realistis ajalah.” Hmmmm … ga salah sih kata-kata adik saya, tapi setiap orang juga punya aktualisasi diri yang berbeda-beda, jadi realistis-nya adik saya jelas beda dengan saudara-saudara saya yang lain. Apalagi dengan tetangga-tetangga yang memilih untuk jadi TKW daripada kerja di pabrikan atau sebagai ART, kalau mereka bisa bicara dengan bahasa intelek, mungkin mereka juga bakal bilang, “Kami sebenernya juga mau aja kalau harus bekerja di kampung halaman, tapi ya permudah jugalah kesempatan kita untuk itu, lha kami butuh duit untuk sekolah anak-anak, untuk makan sehari-hari, belum juga menghidupi kedua orang tua dan saudara-saudara kami yang lain. Mana harga barang-barang pada naik. Tapi justru sekarang kenyataannya malah keberadaan kami dianggap sebagai komoditas yang menguntungkan untuk dijual ke negara lain, tanpa ada jaminan keselamatan.”

Nah lho … susah kan kalau sudah seperti itu. Sedangkan kalau bicara siapa yang salah & siapa yang benar, ga akan ada habisnya. Pemerintah yang seharusnya me-manajemen-i rakyatnya justru sibuk dengan kepentingan masing-masing. Sedangkan rakyat butuh kehidupan yang lebih layak, lebih tenang, harmonis & kondusif. Yah, memang susah …

Lha kalau saya sendiri ditanya menurut pendapatmu gimana tentang fenomena ini? jawaban saya cuma “Hanya Tuhan dan mereka sendiri Yang tahu, ya pemerintah, sepupu-sepupu saya, para TKW, apa yang sebenarnya mereka cari di dunia ini & bagaimana cara menghadapinya” gampang & ga perlu penjelasan hehehe *curangdikitdotcom

Kalau keinginan & harapan? Kembalikan saudara-saudara sayaaaa

Lha terus kemana jadinya kolam susu itu? Yang jelas tetap ada. Ya di syair lagu Koes Plus yang judulnya Kolam Susu itu hehehehe

Memang syair selalu bisa membungkus lagu dengan indah. Gud nite 🙂

—Just intermezo ga penting, yang ga pernah ada jawabannya. Selamat mumet hehehe—

Hanya sesuatu yang ingin keluar dari otakku :)

Seorang ksatria datang dari medan perang … dengan memegang pedang yang berlumuran darah dan perisai yang tak seindah ketika dibuat, dia berjalan dengan badan penuh luka. Entah apa yang coba dia perjuangkan, cintanya akan sesuatu yang dia kejar ataukah hanya memperjuangkan egonya yang sudah terlukai.

Dia datang kepadaku, dengan jalannya yang tertatih dan mata yang masih mencari. “Ada apa denganmu wahai ksatria?” tanyaku, dan dia terdiam panjang
“Perang ini membuatku lelah” jawabnya.
“Apa yang sebenarnya kamu inginkan dari perang ini? Kemenangankah?”
Dan dia mengangguk pelan.
“Jika kamu masih sanggup untuk memperjuangkan kemenanganmu … lanjutkanlah. Lanjutkan dengan semangatmu yang masih tersisa”
Dan dia kembali terdiam.
“Tapi aku sudah lelah, sangat lelah.”
Aku iba melihatnya. Dalam dirinya yang tampak kokoh ternyata dia juga bisa terjatuhsangat dalam.
Aku bertanya padanya,
“Jika boleh aku bertanya … untuk siapa dan untuk apakah perjuanganmu ini?”
Dia hanya menjawab singkat, “Aku tak tahu”

Aku menghela nafas panjang.
“Betapa gagah dan perkasanya dirimu ketika pertama kali perang ini dimulai, lihat dirimu sekarang, penuh luka dan rasa sakit yang sangat. Perjuangkanlah apa yang layak kamu perjuangkan. Tapi janganlah jadi pahlawan yang hanya memperjuangkan ego, berilah kesempatan pada dirimu untuk memutuskan strategi terbaikmu untuk memenangkan peperangan ini.”
Dia menatapku. “Perang ini terlalu kejam, tak peduli berapa banyak nyawa dan hati yang terlukai.”
“Dan kamu ingin melanjutkan? Meskipun kamu tahu badan, hati, dan pikiranmu telah lelah. Apa yang membuatmu enggan berhenti?”
Dia hanya terdiam.

“Apapun alasanmu … aku tidak akan bertanya lagi padamu. Tapi perang ini telah merenggut semuanya, tak seharusnya perang ini dilanjutkan. Akan ada banyak lagi yang terlukai karenanya. Melihatmu seperti ini, apa yang bisa kulakukan?”
Dia menatapku dengan iba dan berkata “Tidakkah kau ingin membantuku? Apa yang harus aku lakukan dengan ini semua? Pengorbananku, semangat dan keinginan kuatku sekarang ini hilang. Wahai engkau yang selalu ada, bisakah kau pinjamkan sedikit saja kekuatanmu kepadaku?”
Aku menghampirinya, kuusap kepalanya dan kurengkuh dia dalam dekapku
Butir demi butir airmata mengalir diantara pori-pori kain bajuku
Oh Tuhan sedalam inikah rasa sakit dalam dirinya, dia simpan semua diantara keperkasaannya, diantara tajam pedangnya, dan diantara baju perang yang kini ikut terkoyak bersama hatinya.
Aku lepaskan tanganku dan kutatap matanya.
“Ksatria, ketahuilah … bahwa kemenangan perang yang sesungguhnya itu bukan dari berapa kali pedangmu terhunus dan menusuk musuhmu, bukan juga dari masih utuhkah baju zirah yang kau pakai, dan bukan juga dari berapa luas daerah yang mampu kau taklukkan. Tapi ketika hatimu mampu memberikan pengorbanan itu dengan ikhlas, menjalani perang ini dengan keteguhan hati, dan meletakkan setiap ambisi yang menguasai … meski tanpa tahu pasti akan seperti apa hasil yang engkau dapat. Maka, saat itulah sebenarnya engkau telah menikmati kemenanganmu yang sebenarnya. Air mata yang sekarang adalah air mata ambisimu yang teruntuhkan oleh egomu yang terlalu kuat.”

“Berdirilah wahai ksatria yang perkasa, berikan senyummu pada mereka yang juga ikut berjuang bersamamu, maka engkau akan menyadari betapa perang ini akan menjadi indah. Darah yang telah tertumpah dan kepedihan yang ikut menyertai bukanlah suatu keabadian. Dia bisa hilang dan tergantikan dengan indahnya hari esok yang baru. Asal engkau juga mau berjanji untuk menciptakannya. Sarungkan lagi pedangmu, lepaskan baju perangmu, bersihkan dirimu, dan pulanglah. Buang semua lelahmu, istirahatlah.
Ada yang menunggumu disana. Dan jika tenagamu telah pulih, semangatmu telah kembali, dan pikiranmu telah jernih maka putuskanlah, akankah perang ini kau lanjutkan atau tidak. Pulanglah wahai ksatria”

Dia hanya menatapku dalam diam, kemudian dia raih tanganku sambil berkata
“Terima kasih wahai mata yang menyejukkan, engkau telah membuatku tahu, mengapa aku ada disini dan harus berada disini. Aku akan pulang, akan aku bawa semua letihku ini dalam tidurku. Dan esok jika aku terbangun dari tidurku, aku pasti telah tahu apa yang harus kulakukan.”
Aku tersenyum lega ketika bisa melihatnya berjalan kembali dengan gagah menuju hidup yang seharusnya dia jalani.

Dan esok ketika pikiranmu telah jernih dan lelahmu telah hilang … kembalilah, karena tempatmu adalah disini.